Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Ingin Aku Menulis Ketika Aku Membaca Tulisanmu (Bagian 1)

6 Maret 2010   07:16 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:35 51 0
Rabu malam, saat kuputuskan untuk terlelap bersama lelahnya perjuangan. Tulisan temanku mengajakku untuk berwisata ke alam yang diungkapkannya. Alam yang bebas berargumen, beropini dan bebas mengkritik. Alam itu yang kini sedang menjadi candu dalam kehidupanku. Mungkin tulisanku bukan tulisan yang kau anggap intelektual teman. Namun aku hanya mencoba belajar atas tantangan alam yang kau suguhkan terhadapku. Berawal dari tutur katamu tentang prilaku prilaku lakon politik yang mengecewakan. Kau mampu menyuguhkan gambaran tentang tikus, kucing dan anjing. Memang benar, di negara kita tikus bisa bebas berkoalisi dengan kucing untuk melawan anjing. Dan Tikus pun bebas berkoalisi dengan anjing untuk membredeli kucing. Atau bahkan kucing berkoalisi dengan anjing hanya untuk menjatuhkan mahluk sekecil tikus. Tak ada lawan pasti, ribuan tahun sejarah kucing sebagai pemangsa tikuspun tak cukup mampu menjadi alasan untuk menjalin petemanan sesaat. Sebuah pertemanan yang tak menutup kemungkinan suatu saat kucing akan kembali menjadi pemangsa tikus. Itulah politik, saling menjatuhkan, saling mencemooh, dan tak canggung untuk saling hantam. Tak peduli seluruh rakyat indonesia tau, tak peduli seluruh rakyat indonesia mengkritik, dan tak peduli jika pada akhirnya rakyat kecewa. Karena ini memang dunia milik mereka. Dunia milik orang-orang yang terpilih.


Seharusnya memang dari awal aku tak berpaling dari warna putih. Dan seharusnya juga dari awal aku menyadari bagaimanapun usahaku untuk tidak lagi memilih putih itu hanya sia-sia. Karena kini warna lain itu telah melenyapkanku pada dosa yang bahkan lebih menyengat bau busuknya dari dosa warna putih. Karena  44 warna itu kini tak mampu melayani rakyat, tak mampu memerdekaan rakyat dan tak mampu mengembalikan uang rakyat. Dan kini, belum usai mereka mengembalikan uang rakyat, mereka kembali menghutang kepada negara. Sungguh suatu yang tak bisa dipahami jika membayar kewajibannya dengan kembali berhutang. Jika uang negara itu milik kami, sungguh pintar kalian wahai orang-orang yang terpilih.


KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun