Semula saya ingin menulis tentang Mary Wollstonecraft dan putrinya, Mary Shelley, dalam rangka merayakan hari perempuan sedunia. Alasannya, ibu dan anak itu punya peran besar baik gerakan kesetaraan gender maupun jagat literasi. Akan tetapi, niat ini saya gagalkan sendiri, selepas saya berpikir, kenapa saya tidak membahas perspektif saya terhadap perempuan selama menulis novel? Bukankah novel yang saya tulis melibatkan beberapa tokoh perempuan? Meskipun, saya akui, tokoh-tokoh yang saya tulis tetap saja didominasi oleh kaum saya sendiri. Sebenarnya bukan karena saya merasa perempuan tidak layak jadi karakter utama, melainkan saya belum berani mengambil suara perempuan lebih dari yang saya ketahui. Inilah yang ingin saya bahas.
KEMBALI KE ARTIKEL