Ramainya kota Tokyo tidak benar-benar bisa menemani kesepian, namun pertemuan kedua manusia dengan keresahan yang sama bisa mengatasinya. Siapa sangka bahwa keberadaan orang asing ternyata mampu memberikan makna tersendiri. Ketertarikan antara keduanya seperti magnet yang bertemu begitu saja, mereka membuat dan menyimpan memori. Keduanya sangat menyadari bahwa keberadaan manusia memilki fase dan jawabannya mungkin hanya jalani saja. Beberapa orang memiliki cara untuk menangani fase hidup yang jenuh, beberapa lainnya memberontak. Apakah keduanya benar atau salah? Jika hidup memang sehitam dan seputih itu, kenapa kadang kita diliputi dengan keraguan? Apa jadinya jika waktu itu kita melakukan "A"? Bagaimana jika "B" adalah pilihan yang lebih baik? Kemudian kita memutuskan untuk tidak berencana ke kota "C"? dan sebagainya.
Saya rasa penulis film ini sangat bijak untuk mengatur egonya, alur ceritanya berjalan begitu saja. Keraguan, rutinitas, kejenuhan, melanjutkan hidup dan memberi makna untuk hidup itu sendiri. Semua akan terjadi dalam kehidupan manusia, entah itu dengan siapa, dimana, Â kapan, dan bagaimana.Â