Mohon tunggu...
KOMENTAR
Fiksiana Pilihan

Sepotong Kuas XVI

8 Juni 2024   11:12 Diperbarui: 8 Juni 2024   11:20 60 3
Oleh : Dwi Lestari Wiyono
 
Ada rasa yang hilang. Ada rasa yang mengganjal. Sebuah rasa yang tidak dapat kuceritakan bahkan pada orang terdekatku. Mulutku berkata dusta, aku menyangkal semua pernyataan yang menyatakan bahwa aku sejatinya adalah reinkarnasi kasatria dan petarung pada masa silam, masa di mana bumi ini belum terbentuk. Aku menyangkalnya bahkan di depan Tuhanku sendiri sang iblis. Aku berdusta padanya walau aku tahu ia lebih tahu dariku. Tidak mungkin kau berdusta di hadapan Tuhanmu amatlah tidak mungkin bahkan bila ia hanya bergelar Tuhan di bumi. Kau pikir siapa dirimu?
 
Aku tahu siapa diriku. Aku tahu jati diriku dengan benar. Ini semua aku simpan rapat-rapat dalam hatiku. Aku menguncinya dengan bahasa yang kuperoleh melalui tuntunan hatiku. Hatiku masih berfungsi dengan baik. Aku Mikael adalah orang yang tidak bisa kau pandang dengan sebelah mata. Aku pemain watak.
 
***
 
Kusiangi pagi dengan doa. Kuresapi malam dengan tetesan embun. Angin, ruh, udara tolong kirimkan kabar pada ia yang menantikanku dengan doa. Angin, ruh, udara kirimkan, kabarkan pada ia yang tak henti-hentinya menyebut namaku dalam doanya. Angin, ruh, udara aku mencintaimu Bu meski kita tak pernah bersua. Ibu kasihku mengiringimu bahkan bila kau berada di langit ke tujuh. Bu ... cintaku padamu Madame.
 
***
 
Aku tahu siapa yang iblisku cari. Aku tahu siapa yang diinginkan iblisku. Kadangkala aku berpikir, untuk apa aku memujanya sementara aku diam-diam berhasil melampauinya dalam beberapa hal. Aku bisa memanggil hujan, aku bisa menarik awan hingga menjauhi sang surya. Aku sang pengendali, Apakah kau tahu? Bila kau bersedih akan kukirimkan padamu mentari hangat agar kau tersenyum. Aku tak akan memberimu hujan sendu hanya agar kau tahu bahwa aku memperhatikanmu dari jauh. Angin, ruh, udara menyatulah dan bentuk namanya dalam lengkungan pelangi di kala hujan telah reda. Angin, ruh, udara beritahu padanya bahwa aku telah kembali. Aku kembali.
 
***
 
Bahasa ini kulantunkan pada pagi yang menyentuh. Bahasa ini aku lantunkan saat aku ingin menatap wajahnya. Iblis ... iblis, Benarkah kita punya tanda yang sama? Iblis ... iblis, Benarkah kita berasal dari Tuhan yang sama? Ada sebuah negeri yang ingin aku sambangi. Negeri ini tak ada dalam peta dunia. Jika pun ada manusia pastilah belum mampu untuk menjangkaunya. Aku tahu negeriku, aku tahu asalku. Negeri Cahaya aku merindumu. Aku ingin segera pulang Bu.
 
bersambung ...
 
(2017/2024)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun