Mohon tunggu...
KOMENTAR
Fiksiana Pilihan

Kesetiaan

29 Juli 2017   23:11 Diperbarui: 29 Juli 2017   23:53 445 1

Jauh sudah ku pupuk rasa kekeluargaan ini. Aku mengalah untuk kebersamaan. Apapun kesibukan yang dimiliki masing-masing, hanya satu tujuan yaitu berkumpul. Tak perlu tempat mewah, tak perlu kuliner mahal, berkumpul saja itu anugerah. Tak perlu sungkan dengan segala macam alasan. Aku disini, duduk, dan bersama bukanlah sebuah gaya hidup seperti orang lain katakan. Bukan pula demi ke-eksis-an semata. Bukan itu yang diharapkan. Kalian tahu, betapa aku bahagia jika bersenda gurau bersama kalian. Heiiii... jangan menyalah artikan ketika bercanda denganku adalah hal yang serius. Jangan menyalah artikan ketika paras ku kaku. Jangan pula menyalah artikan kalau tak asyik. 

Don't judge the book by the cover, please.

Aku, Dia, Anda, Ia, dan Beliau terbentuk mungkin karena meja kami yang satu barisan. Kebetulan kami satu kantor pada masanya. Senang? Tentu. Bahagia? Ya. Hal ini terjadi karena aktivitas yang sama, bertemu dengan waktu yang intens, berbicara sesuai yang dirasakan. Semua berlalu dengan baik-baik saja. Ketika bom waktu meledak. Buuum.....!!!!!!! Hancur semua tanpa sisa.      

Bom meledak, tumpah ruah segalanya. Kalian tahu? Ada seseorang yang menyimpan bom itu sejak lama dalam sebuah bunker. Sepertinya bom ini terdapat detik waktu yang berpacu dengan cepat. Kalian lihat? Ia menyetingnya dengan apik. Sulit kalian menemukannya, ia menyimpan dalam hati, dibungkus seperti daun bacang, lalu di plester. Angka pada bomnya pun diatur pula, agar meledak sesuai rencana. Kalian lihat? Tentu tidak, ia gurih bak sosis dan manis bak gulali. Ketika semua binasa, ia berkata "sempurna"!!!

Hati yang jernih, hati yang bersih, akan kembali pada haribaannya. Ia kembali pada asal-usul mula sapaan "kami". Cukup kisah ini, jangan pernah ada bom yang lain. Mengapa hati yang baik disalahgunakan? Entahlah... ketika seseorang berduka, mungkin mereka akan tertawa dan merayakan euforia. Ketika ada yang bahagia, apakah mereka peduli? Tentu saja tidak!

Sahabat, aku ada karena aku mengalah untuk bersama. Menyingkirkan ego dan alasan-alasan walaupun harus mencuri waktu. Demi apa? Demi silaturahim, menjalin ukhuwah yang sempat tercerai. Wahai sahabat, terima kasih karena persahabatan murni akan megalahkan segalanya. Terima kasih untuk dunia yang berbeda ini. Saudaraku, jika kalian tak menemukanku kelak, tolong panggil aku apabila terperosok ke dalam samudera bara yang menyala. 

Kemudian bawalah aku ke taman surgawi nan permai, berkumpul bersama kalian. Akankah elok dipandang? Entahlah, ini hanya sebuah angan saja. Satu cerita tersimpan, tak perlu bicara banyak, tindakan yang kelak akan dipertaruhkan. Bom waktu, tidak akan terpecahkan misterimu sebelum semua terkuak. Hanya "terima kasih" karena kejernihan hati mengalahkan segalanya.


Bogor, 29072017

(23.06) devilogi

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun