‘Ogah rugi’ adalah nama tengah saya. Setiap kali mengikuti acara off-air, semaksimal mungkin menggali banyak ilmu dari peserta yang hadir. Termasuk ketika mengikuti acara yang digelar Kompasiana ‘ Test Drive Chevrolet Spin’ pada Sabtu (14/9). Sehingga, jika kalah memenangkan lombanya, saya masih mendapat manfaat lain dari acara ini.
Bermula ketika panitia mulai mengumumkan grup 5 yang akan masuk dalam satu mobil di depan Bentara Budaya Jakarta. Selain saya, disebutkan pula nama kompasianer lainnya, yakni Dzulfikar Alala yang sudah saya kenal karena beberapa kali menjuarai lomba ngeblog, Mercy yang beberapa saat sebelumnya menyebutkan dirinya mantan wartawan Kompas, dan Ev Simanungkalit yang tampak pendiam tapi rajin senyum. Dan, diumumkan pula satu admin Kompasiana yang akan bergabung, yakni Nurul.
Kami kemudian mendapat jatah mengendarai Spin warna Maroon. Saya nggak nyangka kalau akan mendapat mobil yang warnanya senada dengan t-shirt yang saya kenakan. Tapi sejak saya melihat beberapa mobil Spin di parkiran Gedung Oren, saya sudah naksir warna yang satu ini. Bahkan Mercy sudah menyimpan tas berisi amunisi di bagasinya. Kami pun sepakat menamakan grup kami Maroon Five.
Sebelum berangkat kami memutuskan Dzul yang berprofesi guru Bahasa Inggris untuk nyetir pertama kali. Saya sih setuju, karena melihat pengalamannya mengikuti acara test drive. Begitu mobil mulai berjalan di gigi pertama, kami mulai mereview fitur-fitur mobil. Standar saya sebagai penumpang yang awam dunia otomotif adalah jika bisa duduk di atas jok dengan nyaman, lalu merasakan embusan freon AC, juga menikmati suara musik yang merdu itu sudah cukup. Kalau urusan laju kendaraan, saya pikir itu menyangkut skill pengemudinya. Dan saya menilai standar itu semua sudah memenuhi harapan.
Setelah masuk pintu tol Slipi, kami pun mulai buka-bukaan profil masing-masing. Dari Mercy, pengetahuan saya tentang home schoolling bertambah. Dari Dzul yang lebih dulu nyemplung di dunia blogger, saya banyak mendapat trik memenangkan lomba, sampai tip pergaulan sesama blogger. Maklum, Dzul menurut saya sudah masuk kategori blogger seleb.
Yang menarik adalah obrolan dari admin Nurul. Beruntunglah saya karena dapat beberapa bocoran tentang tips posting di Kompasiana, juga info-info menyangkut penyelengaraan lomba nulis di Kompasiana. Walau sedikit berbau curcol di sana-sini, saya selalu menyimak kata-kata admin yang masih pengantin baru ini.
Di sini kami semakin akrab, dan obrolan sempat mengalihkan kami memerhatikan speedometer. Benar-benar tidak nyadar kalau kami sudah melewati kecepatan 95 km/jam. Tak ada getaran dan goyang yang kami rasakan.
Di Cawang, sebelum masuk ke tol jagorawi, kami sempat melihat salah satu mobil peserta mengambil jalur ke tol Cikampek. What’s wrong?
Tak terasa 45 menit berlalu. Spin yang kami tumpangi tiba di titik kumpul pertama yakni rest area Sentul. Yang jadi bahasan kami saat turun adalah bagaimana rasanya peserta lain mengendarai Spin yang berbahan bakar solar.
“Lho, mobil kita kan pakai solar,” jelas Dzul.
Saya kaget. Hampir nggak percaya karena selama perjalanan saya nggak merasakan getaran seperti kalau naik mobil berbahan bakar solar. Dzul pun menujukkan pintu tanki bahan bakar. Ya, ternyata solar! Dan itu saya percaya benar-benar ketika mendengar suara mesin mobil dinyalakan dari luar.
Setelah istirahat sejenak, kami berganti supir. Kali ini giliran Ev Simanungkalit yang oleh panitia di daftar lolos peserta ditulis Simangkulangit. Ernest, begitu panggilannya, tampak kalem saat mulai mengemudi.
Mobil pun melaju ke Bogor, dan begitu masuk kota yang disesaki angkot ini, kami mulai bersiaga agar tidak salah jalur. Peta petunjuk jalan tidak dipakai. Kami memilih mengikuti mobil tim survey panitia yang beda merk. Makin menuju pinggir kota Bogor, jalan makin menyempit. Apalagi ketika hendak ke lokasi wisata Gunung Salak Endah, jalan makin menanjak. Setidaknya ada dua belokan patah yang cukup sulit dilalui, apalagi jika berpapasan kendaraan dari lawan arus.
Hanya 100 meter menjelang garis akhir, mobil yang kami tumpangi sempat slip ditanjakan dan tikungan tajam. Ernest berusaha dengan tenang menyelesaikan masalah. Beberapa kali usahanya untuk maju gagal. Untunglah rem tangan kendaraan kami berfungsi baik sehingga mobil kami tidak sampai merosot ke jurang. Terus terang, kalau saya mungkin sudah akan kebanjiran keringat, lalu minta tolong panitia menggantikan saya :P.
Akhirnya, dengan cara berkelak-kelok cepat, mobil kami lolos ke track yang kami tuju. Kami pun memarkirkan mobil, lalu ke luar mencuci paru-paru dengan udara yang benar-benar segar.
Istirahat Bermanfaat
Usai makan dengan lauk pauk yang bikin perut kekenyangan, kami mendapat materi product knowdlege dari Kompas Otomotif (Materi yang disajikan akan saya tulis terpisah). Saya superserius memerhatikan karena berikutnya yang akan mengemudi adalah saya.
Pada sesi penyerahan doorprize, saya kaget waktu disebut masuk tiga orang yang aktif ngetweet selama perjalanan. Rasanya sih hanya dua tweet. Kalau pemenang lainnya—Syaifudin Sayuti dan Haris Maulana—memang sudah beken sebagai tukang ngetweet di banyak acara.
Kami kemudian diizinkan membuat acara bebas di sekitar Curug. Sebenarnya saya sudah membawa pakaian salin, tapi kemudian saya batalkan niat mandi di bawah air terjun karena nggak kebayang harus membawa pakaian basah di ransel. Sedangkan dari Jakarta nanti saya harus naik bis umum.
Mau motret pun tidak bisa karena satu gadget sudah dalam kondisi mati, satu tab dalam kondisi sekarat yang saya pakai untuk komunikasi dengan isteri, dan kameran pun ternyata sudah habis batere. Akhirnya, Cuma bisa nguping perbincangan teman Kompasianer sambil berdoa hujan tidak turun.
Kebablasan