Jokowi juga menjelaskan tentang Ekonomi Kreatif dengan begitu lugas , sehingga Prabowo sendiri mengakui dan mengatakan itu baik dan ikut menyetujui, bahkan melawan penasehatnya yang memberi masukan untuk tidak setuju dengan semua yang dikatakan Jokowi.
Soal pendapat pendukung Prabowo bahwa beliau yang menang, oh itu sah sah saja.... toh pada akhirnya yang akan menentukan the real winner sebagai pimpinan yang lebih dipercaya rakyat adalah hasil pemilu nanti tanggal 9-July 2014.
Ketika ditanya soal TPID, Prabowo malah gelagapan menjawab, dan pada hampir semua pertanyaan yang diajukan Jokowi, selalu ada embel embel..."APBN bocor yang sedemikian besar...", dan ditambahi penjelasan soal kekayaan negara yang hilang... (bocor lagi khan?.)
Atas dasar "Kebocoran" ini KPK malah sudah mengklarifkasi bahwa angka itu tidak pernah secara resmi di-released KPK. Gimana bisa bocor tujuh ribu-an triliun, kalau APBN nya saja tidak sebesar itu ?. Kalau bicara soal potensi, wah itu sama saja bicara soal dugaan dan khayalan. Semua di dunia ini bisa berpotensi menguntungkan dan merugikan.
Lagipula yang mengherankan sekali adalah klaim kebocoran APBN yang secara konsisten dikatakan Pabowo, tentu harus merujuk pada sepuluh tahun pemerintahan SBY, yang terus "membocori" dan merugikan negara.
Bicara soal SBY, tidak dipungkiri bahwa Hatta Rajasa ikut terlibat dan berperan besar didalamnya. Hatta Rajasa menduduki jabatan mentri di berbagai departemen, dan sebagai puncaknya, beliau diangkat menjadi Mentri Koordinator Bidang Perekonomian, sebelum akhirnya mundur ketika masa kampanye akan dimulai, karena dipilih Prabowo menejadi Cawapres . Belum lagi melihat fakta bahwa Hatta Rajasa adalah besan SBY. Hemat saya tentu HR memiliki kedekatan emosional dengan SBY lebih daripada mentri lainnya.
Aneh saja jika dikatakan bahwa IQ Prabowo adalah 152 (anggaplah ini benar), tapi tidak bisa menyederhanakan persoalan dan keprihatinan Prabowo; mengapa justru Gerindra memilih berkoalisi dengan sumber sumber "kebocoran" ?.
Jika menurut Prabowo Indonesia terus mengalami kebocoran, mengapa beliau justru memilih Hatta Rajasa sebagai Cawapres, yang nota bene adalah mentri aktif dan ikut terlibat dalam berbagai keputusan SBY sebagai Presiden selama dua periode ?.
Bahkan koalisi partai yang dipilih Prabowo, semuanya adalah bekas teman koalisi Partai Demokrat dibawah kepemimpinan SBY, yang dianggap Prabowo tidak berhasil, karena "bocor melulu".
Tidak perlu berdebat banyak soal hal hal yang lain, tapi bagi saya, keputusan Prabowo memilih Hatta Rajasa adalah "kebocoran" terbesar yang dilakukan beliau sendiri dalam upayanya memenangi Pilpres 2014.
Percuma bicara soal kebocoran dan segala potensinya ketika yang diangkut ke gerbong koalisi adalah pihak pihak yang terkait erat sebagai bagian dari kebocoran dan tidak mampu berbuat apa apa bahkan ketika memegang peranan penting dalam membuat kebijakan dan mengambil keputusan.
Saya lebih tertarik bicara yang nyata nyata sudah terlihat jelas hasilnya. Mengelola Solo dan Jakarta, dalam skala kecil hampir sama dengan mengelola Indonesia, hanya soal jumlah staff ahli dan anggaran yang jauh lebih besar.
Kalimat ini rasanya tidak dapat disangkal kebenaranyya.... "segala sesuatu yang besar, dimulai dari hal hal kecil... Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang akan diperbuatnya, tapi apa yang sudah dilakukannya..."
Salam dua jari untuk Indonesia hebat!.