Pengamalan agama dipahami berdasarkan framenya, situasi dan kondisi. Dari sini kaca pandang orang biasa dan kaum intelek berbeda cara merefleksikannya. Rasulullah pun memberikan jawaban yg berbeda padahal pertanyaannya sama, di sisi ini Rasulullah melihat siapa penanya dan apa aktifitasnya.
Tentang fiqh pun tafsir yang beragam itu banyak sekali perbedaan. Ada perbedaan karena memang sudut pandang situasi berbeda. Imam Syafe'i pun merevisi hasil ijtihadnya seiring waktu dan situasi berbeda dengan istilah qaul qadim dan jadid
Ini adalah sesungguhnya indikasi, segala sesuatu dinamis tergantung frame yang mengitarinya.
Agama berlaku sepanjang zaman, sepanjang hal yang terkait sosial kemasyarakatan difahami dinamis.
Tidak mengdogmatiskan sesuatu yang sesungguhnya bersifat partikular temporer disitu dan saat itu.
Agama turun untuk manusia bukan untuk hewan. Sementara manusia mahluk yang berbudaya dalam rangka menjalani kehidupan. Kehidupan tiap wilayah tentu berbeda pula. Termasuk cara bagaimana berpakaian dan adat sopan santun.