20 April 2010 21:14Diperbarui: 26 Juni 2015 16:403760
Dirjen Pengelolaan Utang baru baru ini (Surabaya Post; 20/4/2010), mengatakan pemerintah rencananya akan menambah utang negara 2T dari penerbitan SBN. Senior Chief Economist Standart Chartered Bank, Fauzi Ikhsan, pengamat ekonomi Farial Anwar, memberi catatan masalah pengalokasian. Bila tanggungjawabnya adalah negara, setiap pengadaan dana dari pihak ketiga harusnya mendapatkan kontrol kuat, khususnya dalam kondisi defisit anggaran. Defisit, berarti ada kesalahan prakiraan, manajemen keuangan, atau pengalokasian. Cek dulu pengalokasian selama ini. Bukankah pembelian mobil mewah, pemugaran pagar istana, rencana pembelian pesawat presiden, termasuk pemborosan? Pemberian fasilitas mewah kepada pejabat publik, cermin negara kapitalis. Kalau Obama memiliki mobil baru anti peluru, mobil ini buatan GM. Mengapa kita tidak pakai Toyota Kijang Astra saja? Contoh keteladanan yang baik, karena muatan lokalnya sudah tinggi. Ada sense of crisis, karena beban utang negara perkepala rakyat makin tinggi. Penghematan dan sikap keprihatinan tak terlihat. Total utang negara saat ini 1619T (Detik Finance tgl.10/4/2011), dan perkepala rakyat terbeban 7,5 juta rupiah (ada yang mengatakan 6 – 7 juta). 25,8% dari PDB. Ada pendapat, PDB besar, utang besar tak masalah. Tapi bagaimana dengan ketahanan nasional dalam semua aspek kehidupan bangsa dan negara? Tahun 2010, utang jatuh tempo 116T. Puncak terbesar tahun 2033, 127T (termasuk surat utang eksBLBI). Tulisan pengantar terdahulu disini.
Jixie mencari berita yang dekat dengan preferensi dan pilihan Anda. Kumpulan berita tersebut disajikan sebagai berita pilihan yang lebih sesuai dengan minat Anda.