Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Rindu dalam Satu Musim

24 April 2013   20:39 Diperbarui: 24 Juni 2015   14:39 114 0
dada ini berdegup lebih cepat, aku tidak tahu lagi harus lari kemana agar bisa menjauh dari bayangan dia. aku tidak tahu, semua sudah menjepitku. sungguh aku berharap ini semua adalah semata mimpi, tapi rupanya tidak. ini adalah kenyataan yang harus aku lewati, ini aku sedang dikejar bayangan itu, bayangan misteri yang menyakitkan itu. kenapa dia dapat menemuiku disini, sudah kembalikah dia dari tempat yang dulu dia bangga - banggakan itu?

*

"Vera, kamu tahu aku besok akan beramgkat ke Paris, disana aku akan meneruskan studiku. aku harap kita bisa bertemu lagi dalam keadaan seperti ini atau lebih bagus daripada ini." ucapnya padaku sambil memelukku erat.

"Kenapa kamu harus pergi, padahal aku baru saja bisa menyelesaikan kuliah yang artinya barusaja kita satu kota lagi, kini giliran kamu yang akan pergi merentangkan jarak perpisahan antara kita, apa kamu tidak lelah dengan hubungan yang begini saja, hubungan dengan jarak yang jauh, bahkan kali ini kondisinya bisa dibilang lebih jauh dari jarak Jakarta Yogyakarta, ini lebih jauh. antara Jakarta dan Paris itu jauh, Erlangga."

"Maafkan aku, tapi aku sudah lama ingin mengejar semua ini, maafkan aku, Vera."

"Tapi kalau aku kangen, kamu mengizinkan kan, kalau aku mau ke Paris... ke kota kamu?"

"Silahkan saja, Vera."

kami berpelukan cukup lama dan seperti tak ingin dipisahkan oleh jarak sesentipun,


*

akupun berlarut - larut menangisi kehilangannya dengan tetap fokus pada kerjaanku yang baru saja aku dapatkan, aku menjadi guru. ini pekerjaan yang aku dambakan sejak dulu masih sma, aku tak peduli dengan gaji atau apapun yang berkaitan dengan material, yang aku cari adalah enjoy nya bertemu dengan anak = anak dan yang jelas ini adalah passion aku yang tak bisa terbeli oleh apapun.

akhirnya setahun sudah aku ditinggalkan pergi oleh Erlangga, aku sedih sekali terutama kala saudara sepupuku, Naira. menikah seusai lebaran haji, aku kesel banget karena tidak bisa bersama dengan Erlangga, dia lagi banyak - banyaknya tugas kuliah katanya. jadi? aku terpaksa menjadi anggota keluarga yang bisa dibilang tidak ada pasangan saat itu.

*

"Aku sudah di Charles de Gaulle, kamu bisa jemput aku?"

"Kamu naik taksi aja sayang, aku lagi ada kuliah hari ini, kamu langsung ke hotel aja. bilang sama sopirnya hotel itu terletak di dekat Katedral NotreDame, udah yaa sayang."

"Jadi, kamu nggak mau jemput aku nih, beneran?"

"Maaf sayang, aku lagi ada kuliah nih. udah ya. nanti aku janji akan datang ke hotel kamu seusai kuliah, kita nanti menikmati indahnya sungai Seine."

"Huhhh!!" aku menutup teleponku.

*

Vera yang sekarang memang sudah tidak seperti yang dulu lagi, kini Vera sudah terlalu sakit jika mengingat kenyataan yang aku lihat waktu aku berada di Paris, aku tidak bisa terima jelas tidak bisa terima. Erlangga yang aku sayangi mati - matian justru tidak menghiraukanku dan lebi banyak berkutat dengan buku - buku serta diktat - diktat yang tebal, kamu pacaran sama siapa sih sebenarnya? sama aku atau sama buku - buku itu?

akhirnya aku tidak betah dengan semua yang terjadi. jalan selingkuh adalah jalan terbaik buat menyegarkan suasana, aku akhirnya memilih seseorang yang ternyata diam - diam juga memilih aku dalam hatinya, rekan kerjaku bernama Adjie. dia juga kenal kok sama Erlangga. aku suka sama dia yang asik dan sangat kooperatif denganku, tidak salah dalam dua kali kencan hatiku sudah luluh dalam pernyataan cintanya. kini, kala kamu kembali lagi ke Indonesia, bagaimana dengan hubunganku sama Adjie? adakah jalan yang harus aku adalah melepaskanmu yang sudah bersanding denganku sejak sma kelas 3? atau aku melepas Adjie saja yang sejak awal adalah pelampiasan. ini jelas tidak adil baginya dan bagimu, jujur aku pusing.

*

"Adjie, kamu dimana? aku sudah ada di Jakarta sekarang. ayo kita jalan - jalan yuk. aku sudah kangen sama macetnya Jakarta."

"Erlangga, kamu udah balik rupanya? ayo masuk dulu, aku udah kangen ama kamu  nih. Pasti pas di Paris ama bule - bule terus disodoknya."

"Huss! jangan keras keras!"

"Udah berapa lama kamu nggak ke sini?"

*

dia menelepon Adjie? bukan aku? apa maksudnya? oh tidak.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun