Aksara-aksara ricuh memantik kerusuhan koyakkan bingkai perbedaan. Timbul tenggelam di antara celah sinar matahari pagi, memenuhi udara siang ruang negeri. Napas pun dibuat sesak sesekali.
Tak menyerah. Aksara-aksara itu jua menyusup di kaki langit senja, ikut mencicipi sinar lembutnya. Dan ketika senja utuh terbenam, ia tinggalkan aksara bernada kerusuhan dan menusuk ketentraman batin.
Malam hening pun jadi korban. Di atas cakrawala yang dikuasai cahaya temaram, ia tetap mengukir untaian aksara, menyempurna dalam bait-bait yang membelah tali perkawanan.
(Catatan langit, 1/4/2019)