Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Kedelai Oh Kedelai, Tempe Oh Tempe...

6 Januari 2021   21:05 Diperbarui: 6 Januari 2021   21:18 382 18
Namanya tukang mancing, ya apa pun yang saya ceritakan pasti ada kaitannya dengan mancing. Bagi pembaca yang begitu dendam dengan tukang mancing, alamat tak akan mampu menyelesaikan artikel ini hingga habis. Saya jamin, ha ha ha....

Tapi begitulah, dari satu tempat ke tempat lainnya pasti memiliki sensasi dan pemandangan yang berbeda. Intinya sama, berada dari satu sawah ke sawah lainnya.

Kemiripan warna sawahnya jelas, hijau. Baik hijau rumput airnya maupun hijau padinya. Kata para ahli kesehatan mata sih, katanya warna hijau alamai menyehatkan mata. Jadi jika ingin matanya sehat selalu maka sering-seringlah jalan-jalan ke sawah. Minimal melihat orang malas lagi mancing.

Berada di area persawahan memang sangat mengasyikan. Pagi menjadi lebih segar. Begitu senja menjadi lebih tenang.

Tidak halnya ketika ingatan tertuju pada apa yang telah dihasilkan oleh pertanian kita. Kesedihan pasti kian memuncak begitu teringat bagaimaan teriakan pengrajin tahu dan tempe.

Saya masih ingat ketika itu ada ibu-ibu yang ider kedele rebus. Seikat dua ribu. Dicemili nikmat banget sambil nonton tivi. Kini kedelai rebus sudah tak ada lagi. Tivi juga tak lagi nikmat untuk disaksikan. Memang kenikmatan telah hilang mungkin.

Ketika harga kedelai dinkota besar dengan akses transportasi yang demikian aman dan terkendali saja harga kedelai yang semula ada di kisaran Rp 6.000 hingga 7.000 per kg, naik menjadi Rp 8.000 hingga 9.000 per kg.  Bayangkan bagaimana jika pengrajin tempe tersebut berada di daerah, di kecamatan yang semula harga kedelai Rp 15.000 per kg, pasti akan naik menjado Rp 20.000 per kg.

Jika barangnya masih ada lumayan, meskipun mahal mau tidak mau tetap dibeli. Herannya begitu harga naik, barangnya tidak ada. Jadi seperti jatuh tertimpa tangga. Sudah begitu para spekulan dan penimbun mengambil kesempatan. Selamatlah. Derita bertambah-tambah.

Masyarakat mungkin akan berkata, "Tak makan tahu dan tempe tak akan mati juga." Tapi kok sampai segitunya sih apatis mereka. Terus mau gimana lagi. Harga eceran tempe jadi pun mau tidak mau akan naik. Dan masyarakat yang kebelet ingin makan dengan lauk tempe terpaksa membeli juga berapa pun harganya.

Ya, beginilah jika kedelai yang kita gunakan merupakan barang impor. Suka-suka para pengimpor donk. Mau naik monggo, mau turun ok. Tapi kalau turun gak bakalan deh. Paling yang dalam baju aja tuh yang rada turun. Apalagi jika mekanisme pasar yang diterpakan untuk komodite impor tersebut.

Saya hanya berhayal mungkin, padahal musim penghujan baru saja datang, artinya beberapa bulan lalu di tempat kita ada yang menanam kedelai. Sehingga meskipun ada kedelai impor tak begitu berpengaruh ketika barangnya naik atau langka.

Yang paling gampang dijadikan kambing hitam pastilah yang kini mewabah di seluruh dunia. Apalago kalau bukan covid-19. Cina sebagai importir kedelai terbesar butuh kedelai sangat banyak dan lain-lain alasan yang bisa saja masuk akal.

Begitu tergantungnya kita dengan negara penghasil kedelai, ya beginilah jadinya. Kadang naik, kadang langka. Dan masyarakarlah yang jadi korban pertamanya. Terutama pengrajin kedelai.

Kalau di DKI saja akibat gejolak harga tersebut, setidaknya ada 5.000 pelaku usaha kecil dan menengah atau UKM di DKI Jakarta yang menghentikan proses produksi tahu dan tempe selama tiga hari, terhitung mulai tanggal 1 hingga 3 Januari 2021. Bagaimana dengan yang ada di daerah lain? Entahlah...

Nah, "Gejolak harga kacang kedelai ini juga bisa sebagai upaya pengenalan benih kedelai hasil rekayasa genetik atau GMO (Genetically Modified Organism) untuk dikembangkan di Indonesia yang berpotensi besar menghilangkan benih-benih kedelai lokal. Untuk di Indonesia sendiri impor kedelai juga masih dikuasai oleh korporasi transnasional skala besar seperti Cargill," kata Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih  dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Selasa (5/1). Ini yang begitu membuat saya khawatir.

Tapi apalah arti kekhawatiran tukang mancing. Kemampuannya hanya melihat, ngomel dan mencak-mencak tanpa bisa berbuat banyak. Paling-paling hanya menahan diri untuk tidak makan tahu dan tempe sebagai bentuk solidaritas. Mungkin saja percuma.

Akhirnya pertanyaan saya mengapa bulek yang biasa keliling dari rumah ke rumah menjajakan tahu dan tempe tak terlihat lagi. Ternyata harga kedelai mahal, mungkin juga sedang tidak ada alias langka.

Saking begitu berpengaruhnya sampai pedagang keliling pun harus kehilangan pendapatannya. Malang memang...




KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun