Mohon tunggu...
KOMENTAR
Olahraga

Asa dari All England

12 Maret 2013   08:33 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:56 359 0
Kejuaran tepok bulu dengan prestise tinggi baru saja kelar. Ya, All England. Dan seperti tahun lalu, Indonesia membawa pulang satu gelar, lewat back to back duo Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir.

Gema All England sendiri--kalau mau jujur--sudah kurang terasa di Indonesia. Iya, semenjak satu-satunya olahraga yang bisa membuat Indonesia Raya berkumandang di ajang Olimpiade ini terus menurun prestasinya, demikian pula dengan animo. Kalau dulu, yang namanya siaran langsung adalah kewajiban. Kalau sekarang? Ada sih, di tivi berbayar. Dan kebetulan saya nggak kuat bayar.

Tapi di balik prestasi yang dicapai Tontowi dan Lilyana, sejatinya kita patut menumbuhkan kembali asa untuk dunia perbulutangkisan kita. Nggak percaya? Berikut datanya yang saya rangkum dari situs resmi turnamen (http://www.allenglandbadminton.com).

Total jenderal ada 56 pertandingan yang dilakoni oleh pemain merah putih, termasuk 1 pertandingan (saja) yang mempertemukan sesama teman. Itu ada di semifinal ganda campuran ketika Tontowi/Lilyana mengalahkan kakak beradik Markis Kido/Pia Zebadiah dengan rubber set. Sebanyak 56 pertandingan itu menghabiskan total waktu 2137 menit alias 35,6 jam atau kira-kira 38 menit per pertandingan. Dari jumlah itu, kemenangan atas nama merah putih tercatat pada 33 pertandingan. Adapun 24 pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan. Eh, 33 plus 24 kan 57? Iya, satunya tentu karena ada pertandingan sesama teman itu tadi.

Dari 33 kemenangan itu, nyaris sepertiganya (12) didapat melalui rubber set. Praveen Jordan/Vita Marissa, Markis/Pia, Muhammad Rijal/Debby Susanto, serta Tontowi/Lilyana masing-masing mendapat 2 kemenangan via rubber set. Empat lainnya milik Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (vs Chai Biao/Zhang Nan), Rizki Amelia Pradipta/Pia Zebadiah (vs Liu Ying Goh/Yin Loo Lim), Anggia Shitta Awanda/Greysia Polii (vs Serithammarak Artima/Peeraya Munkitamorn), serta Sonny Dwi Kuncoro (vs Vladimir Ivanov).

Sedangkan dari 24 kekalahan, 25% alias 6 pertandingan dilangsungkan via 3 game. Yakni kekalahan Suci Rizky Andini/Della Destiara Haris dari unggulan 8 Duanganong Aroonkesorn/Kunchala Voravichitchaikul, Dionysius Hayom Rumbaka dari Sourabh Verma, Anneke Feinya Agustin/Nitya Krishinda Maheswari dari unggulan 6 Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna, Fran Kurniawan/Shendy Puspa dari unggulan 5 Zhang Nan/Zhao Yunlei, unggulan 8 Ahsan/Hendra dari Liu Xiaolong/Qiu Zihan, serta kekalahan Markis/Pia dari Tontowi/Lilyana.

Pertandingan paling lama yang dilakoni skuad merah putih tentunya duel dramatis milik Markis/Pia melawan unggulan 6 Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam dengan 18-21, 22-20, 22-20. Tentunya dua set kemenangan yang sangat menegangkan dari duet kakak beradik ini. Total waktu yang dihabiskan adalah 1 jam 11 menit. Adapun kemenangan tercepat diperoleh Aprilsasi Putri Lejarsar Variella/Vita Marissa ketika menaklukkan Sophie Brown/Helena Lewczynska 21-13 21-9 dalam 20 menit saja. Duet ini juga yang mendapatkan kekalahan tercepat ketika takluk dari Cheng Shu/Zhao Yunlei 21-12 21-7 dalam 23 menit.

Sedangkan pertandingan paling cepat terjadi ketika Sony Dwi Kuncoro mengundurkan diri ketika melawan pemain Denmark Jan O Jorgensen, pada menit ke 8.

Untuk kekalahan paling alot terjadi pada pertandingan Suci Rizky Andini/Della Destiara Haris melawan Duanganong Aroonkesorn/Kunchala Voravichitchaikul 21-15, 27-29 (!), 21-19 dalam waktu 1 jam 4 menit.

Lantas, mana yang saya sebut asa tadi?

Pertama, penampilan Belaetrix Manuputi yang membukukan 3 kemenangan (dari Simone Prutsch, Karin Schnaase, dan Minatsu Mitani) sebelum kemudian dikandaskan unggulan kedua Saina Nehwal. Sebuah pencapaian yang cukup bagus, apalagi kalau dibandingkan Adrianti Firdasari yang langsung ditaklukkan Nichaon Jindapon.

Kedua, performa kakak beradik Markis/Pia yang secara luar biasa menyungkurkan 2 unggulan yakni Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen di posisi 4 dan Prapakamol/Thoungthongkam di seeded 6. Performa mereka mewarnai kegemilangan ganda campuran di All England ini.

Ketiga, jangan lupakan kegemilangan duet unggulan 7 Rijal/Debby yang berturut-turut mengalahkan Danny Bawa Chrisnanta/Yu Yan Vanessa Neo, Jorrit De Ruiter/Samantha Barning, dan (ini dia kejutannya) Xu Chen/Ma Jin yang adalah unggulan pertama. Meski kemudian mereka malah takluk dari unggulan 5 Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Keempat, keberhasilan Lindaweni Fanetri mengalahkan Wang Yihan yang adalah unggulan ketiga dengan 21-12 21-19. Prestasi yang patut dicatat meski kemudian dia kalah mudah dari Tine Baun yang adalah unggulan 7 dengan 21-7 21-13. Kebetulan Tine melaju ke final untuk lantas menjadi juara di All England terakhirnya ini.

Kelima, jangan lupakan pula keberhasilan Fran Kurniawan/Shendy Puspa menaklukkan unggulan 3 Peng Soon Chan/Liu Yin Goh, sebelum mereka dikalahkan oleh Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Hasil-hasil bagus di atas memang kebanyakan masih terjadi di nomor ganda. Masih menjadi PR besar bagi kita untuk membangkitkan kembali sektor tunggal. Taufik Hidayat sendiri di All England ini kalah dari Sho Sasaki, yang juga tidak melaju jauh. Namun--apapun--hasil-hasil di atas seharusnya mampu membuat kita memandang kembali ke olahraga kesayangan bangsa Indonesia ini.

Tinggal bagaimana PBSI dan juga seluruh stakeholders lainnya saling bahu membahu guna mengembalikan kejayaan Indonesia di ranah tepok bulu dunia.

Kita Bisa!

Salam :)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun