Kami berbincang di depan benteng, menduga-duga apakah kami bisa masuk ke dalam. Karena penasaran, akhirnya kami bertanya kepada seseorang yang lewat di depan kami. Pak Sukino namanya, salah satu homeless yang tinggal di Benteng Vastenburg. Dia memberitahu kami kalau Benteng Vasterburg ini tertutup untuk umum. Kami sedikit kecewa mendengarnya. Saya hanya bisa menengok dari balik pintu teralis. Pintu tersebut laksana pembatas antara dunia luar dengan masa lalu yang terkungkung di dalam benteng. Dinding tinggi yang mengitari benteng pun tampak mengamini hal tersebut.
KEMBALI KE ARTIKEL