Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Atheisme: Bolehkah Hidup di Indonesia?

12 Juli 2012   14:18 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:01 2225 4
[caption id="" align="alignnone" width="480" caption="Surely I have nothing... (Source: http://randyneff.files.wordpress.com/2012/04/fan-club-atheism-21418639-480-360.jpg)"][/caption] Komentar Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD baru-baru ini yang menyatakan bahwa keberadaan golongan penganut ateis diperbolehkan beraktifitas, wajar membuat banyak orang kebakaran jenggot.

Kita berbicara mengenai sebuah negara dimana dasar negaranya (Pancasila) menyebutkan tentang kepercayaan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebuah negara yang yang sudah ratusan tahun dijejali pengajaran dan praktik religi, bahkan di sekolah sejak kecil kita harus menelan pelajaran agama bulat-bulat. Negara yang sukses mengusir “pemuja setan” Lady Gaga namun disaat yang sama, Departemen agama-nya kerap disebut Departemen terkorup, ditambah lagi kasus korupsi pengadaan kitab suci agama tertentu.

Kalau membaca surat-surat kabar nasional, perhatikan baik-baik. Artikel-artikel berbau religi kerap mendapat ratusan komen dan artikel-artikel sains dan edukasi miskin tanggapan. We value religions pretty high and now we’re talking “an alien thought” such as accepting Atheism.

For the thing that is holy and divine…No Way.

Wajar kalau kita alergi mendengar hal diatas. Sangat minim edukasi mengenaiideologi diatas sewaktu kita mengenyam bangku sekolah. Yang kita tahu ateisme (berhubung kita masyarakat yang religius), adalah ideologi yang mengancam keberadaan masyarakat yang percaya adanya Tuhan. Dan juga sering diidentikkan bahwa orang tidak beragama DIPASTIKAN memiliki moral yang buruk. In the meantime….bila ada figur relijius kedapatan korupsi atau selingkuh kita dapat berkata: “Agama tidak menentukan…Itu tergantung pribadi seseorang.”

Oooh yeah…How awesome our society is…

*Bukankah Sila 1 menyebut Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi bukankah tidak bijak menerima komunitas yang tidak mengakui Tuhan dan tidak sejalan dengan ideologi bangsa?

Ini pasti pertanyaan yang kerap bergulir. Kalau dilihat 6 agama resmi di Indonesia, Tiga diantaranya (Hindu, Buddha dan Konghucu) tidak mengakui Tuhan yang Esa (Satu Tuhan). Hindu menganut polytheisme (banyak dewa) dan ada juga doktrin “Atheistic Hindu.” Buddha menolak diskusi ada/tidak adanya Tuhan. Konghuchu mungkin contoh paling tepat karena tidak menyembah siapa-siapa, dan ajarannya lebih pantas disebut sebagai pemikiran dan filosofi hidup ketimbang agama. Hanya Islam dan Kristen/Katolik yang memiliki paham monotheism (satu Tuhan) Bagaimanapun juga, toh mereka tetap diterima dan dapat berbaur didalam kemajemukan.

Sebelum kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” diresmikan, Soekarno sempat mengajukan kalimat “Ketuhanan yang Berkebudayaan” untuk sila pertama ini. Mungkin saja Soekarno sebelumnya sudah memiliki visi kedepan, bahwa dalam 60-70 tahun kemudian, prinsip monoteisme Ketuhanan akan menghambat perkembangan toleransi dan kemajukan bangsa Indonesia dalam menjalankan kepercayaannya.

Fear No Evil but Fear “The Goodness”

Dalam suatu kesempatan, saya berbincang-bincang dengan seorang sahabat. Ngarul-ngidul dan topik tiba-tiba mengenai gay/lesbian dan ateisme. Sebuah pertanyaan terlontar: “Mengapa kita (umat beragama) harus menolak ateisme dan homoseksualitas?”

Sahabat saya menjawab, “yang berbahaya mengenai komunitas mereka bukan masalah kebobrokan moral mereka. Setiap masalah kasus pelecehan seksual, drug addiction dan depresi yang mereka alami justru adalah amunisi terbaik kita umat beragama untuk menghakimi dan melakukan pembenaran.”

“Namun yang berbahaya karena dalam realita, mereka bisa bersaing dengan orang heteroseksual di marketplace. Mereka bisa mempunyai keluarga yang harmonis. Mereka bisa hidup sukses dan diberkati. Setiap berita baik mengenai mereka adalah pengikis fondasi pandangan religi bahwa ternyata orang yang tak ber-Tuhan pun hidupnya bahkan lebih baik ketimbang mereka yang beragama. Ketika kita berpikir orang yang tidak percaya adanya surga, akan menjalankan hidup semaunya, ada saja orang yang justru dapat mengapresiasi hidup mereka lebih maksimal dari mereka yang percaya adanya surga.”

Bukan kebobrokan moral, melainkan kompetensi dan kualitas orang ateis sebagai manusia yang membahayakan value reliji. Kira-kira itu konklusi perbincangannya.

Respon Kita Sebagai Umat Beragama

Sampai disini, mungkin para pembaca akan mengira kalau tulisan ini pro-ateisme. Namun justru sebaliknya. Kita selama ini menggunakan strategi yang salah dalam menghadapi ateisme. Our weapon of choices are mainly condemnation and justification. Ateisme tidak akan dapat dipatahkan oleh penghakiman dan pembenaran, karena dengan neraca yang sama mereka akan membalas kita dengan penghakiman dan pembenaran sehingga endless cycle terjadi. Bukankah ada ungkapan “ukuran yang kita pakai untuk menghakimi akan diukurkan juga pada kita?”

Yang dibutuhkan sekarang adalah humility dan respect. Kita tidak dapat membuka hati orang lain sebelum kita terbuka dan menerima orang lain terlebih dahulu. Tidak ada orang yang hatinya berganti kepercayaan karena paksaan dan pembenaran. Hanya kerendahan hati dan penghargaan yang sanggup mengubah paradigma. Substansi juga lebih penting daripada teori. How applicable our faith in our life? Seberapa jauh apa yang kita percaya membawa kita pada kesuksesan di market place dan hubungan sosial? You can’t change people but you can prove that what you believe is real.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun