Kau pujangga, lelaki berwajah diksi, selayang pandang menghipnotis hati, semerah saga rasaku kini, perlahan membentuk namamu di patahan-patahan angan
Secawan harapan kausuguhkan, menjamuku dengan anggur kenikmatan, piala-piala kau isi penuh dengan kisah di masa depan, hingga aku mereguknya, tanpa sungkan
Labirinku runtuh sudah, aku menyerah, entah, akankah bahagia menari bersamaku? Atau kaca di pelupukku yang menipu?
Hanya kabut dalam pandangan, satu pun pilihan tak tahu mana yang bisa aku dapat. Menyerah, kalah, pasrah pada naskah original buatan Tuhan.
Lalu, malam lantas meriwayatkan sebuah nalam. Tentang seranting harap yang diam-diam kita dekap. Dan secawan angan yang malu-malu kita telan. Sebagai upaya menjahit cemas dari anak-anak rindu yang akan kita labuhkan bersama selayar impian.