Mohon tunggu...
KOMENTAR
Lyfe

Coklat Ini

6 Februari 2011   12:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:51 530 0

Felix yang baru berumur 7 tahun dan bundanya sedang berada di ruang keluarga sembari menonton tv dan kebetulan sedang ada liputan tentang pernak-pernik valentine karena Felix penasaran dengan valentine itu sendiri akhirnya ia bertanya kepada bundanya.

“bun, valentine itu apa?” Tanya Felix

“apa? valentine?” dengan sedikit terkejut saat bunda mendengar pertanyaan Felix

“iy bun, valentine” kembali Felix meyakinkan pertanyaannya

“valentine itu hari dimana kita saling berbagi dengan orang yang kita sayangi.”

“berbagi apa bun?” Tanya Felix lagi

“apa aja tapi biasanya valentine itu identik dengan coklat sayang” jawab bunda dengan senyum kecilnya.

“valentine itu setiap hari ya bun? Kl setiap hari pasti banyak coklat dirumah” dengan polos Felix bertanya

“ngga sayang valentine itu setiap tanggal 14 Februari yaa sekitar 2 minggu lagi lah kira-kira. Kok tumben kamu nanya kyak gini ke bunda?”

“ ngga apa-apa bun, Felix cuma mau tau aja kok kalo gitu Felix pengen ngrayain valentine juga ahh”

“hahaha, ada-ada aja kamu Felix. Ya udah, kamu tidur yaa kan besok harus ke sekolah.” Perintah bunda

“iya bun, Felix juga uda ngantuk nih.”

Langsung dari sofa di ruang tv Felix lompat dan berlari ke kamar tidurnya tapi sebelum ia tidur, ia berpikir tentang valentine itu. Felix ingin sekali membelikan ayah-bunda coklat yang nantinya diberikan pada saat hari valentine tapi Felix bingung bagaimana cara mendapatkan coklat tersebut Felix-pun tidak kehabisan akal, Felix berencana utk menyisihkan uang jajannya dan itu akan digunakannya utk membeli coklat.

Keesokan harinya ketika pagi hari, bunda membangunkan Felix dan Felix dengan semangat ingin berangkat sekolah karena ia tau kalo ia berangkat sekolah maka akan mendapatkan uang jajan dr bunda. Selama satu minggu Felix mengumpulkan uang dari uang jajannya dan ia rasa sudah cukup untuk membeli coklat buat ayah dan bunda. Felix tidak memikirkan coklat apa yang akan ia beli nanti entah enak atau mahal atau bermerk tapi ia hanya tau yang penting coklat yang mau ia belikan buat ayah-bunda. Felix pergi bersama pengasuhnya ke warung terdekat untuk membeli coklat dan Felix membeli 2 batang coklat untung saja uangnya cukup, namanya juga warung jadi harga coklatpun tidaklah terlalu mahal dan coklatnya-pun biasa-biasa saja.

Pagi ini seperti biasa Felix dibangunkan bunda untuk berangkat kesekolah dan seperti biasa pula Felix semangat untuk bersekolah.Hari ini karena ayah Felix ada meeting dan mengharuskannya berangkat lebih pagi jadi Felix diantar bunda ke sekolah.

“Felix ayo kita berangkat nanti telat loh” teriak bunda.

“iya bunda, Felix uda mau selesai kok” jawab Felix dari kamarnya

Lima menit kemudian, Felix keluar dari kamar dan pergi ke sekolah bersama bundanya. Sesampainya disekolah:

“belajar yang rajin yaa sayang.” Ujar bunda

“iya bun, Felix ngga akan nakal kok.”

“anak bunda emang paling pinter deh” sambil mencium kening Felix “ya udah, sekarang kamu masuk kelas ya sayang”

“iya bunda” sambil mencium tangan bundanya

“Felix hati-hati yaa, bunda sayang Felix”kata bunda dengan lembut

“Felix juga sayang bunda kok hehehe dadah bunda” dengan langkah kecilnya ia berlari menuju kelasnya

“dadah Felix” jawab bunda

Felix masuk ke kelasnya, ia belajar seperti biasa hari-hari biasanya ia bersekolah namun baru 30 menit dikelas bu guru memanggil Felix keluar kelas

“Felix, kamu sekarang harus pulang” ujar bu guru

“loh kenapa bu? Kan Felix masih pengen belajar sama temen-temen” Tanya Felix heran

“ada papa kamu di luar sayang, papa kamu udah nungguin tuh katanya kamu sekarang harus ikut papa pulang” jawab bu guru dengan sabar

“ada papa? Ya udah deh Felix mau pulang abis papa uda jemput Felix hehehe” tawa kecil terdengar dari Felix

“ya uda sekarang kamu rapiin buku-buku kamu ya” perintah kecil bu guru

“iya bu” jawab Felix dengan anggukan kepala

Felixpun langsung merapikan buku-bukunya dan memasukkansemuanya ke dalam tas seusai itu ia langsung berlari menuju ayahnya yang sudah dari tadi menunggu Felix.

“yah, kenapa kita mesti pulang? Bunda mana?" Tanya Felix penasaran

“Felix ikutin ayah aja yaa nanti Felix juga tau sendiri kok sekarang Felix naik mobil ya terus pergi sama ayah” jawab ayah

“iya yah” sambil naik ke mobil

Ayah langsung menjalankan mobilnya dan wajah gelisah ayah mulai muncul tanpa berkata-kata ayah mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi lalu Felix bertanya kembali

“ayah, kenapa ayah ngebut memang kita mau kemana sih ya?”

“uda Felix ikut ayah aja yaa jangan ganggu ayah dulu ayah lagi buru-buru sayang” jawab ayah dengan singkat

Dengan wajah gelisah ayah mengecek HPnya terus menerus dan mencoba menghubungi beberapa orang karena Felix yang masih kecil tidak tau apa-apa jadi dia hanya bisa diam saja karena ayahnya terlihat sangat sibuk dan gelisah lagi pula tadi ayah sudah memperingatkan Felix untuk tidak mengganggu. Hanya dalam waktu 15 menit Felix sampai di suatu tempat yang tidak asing bagi dia yaitu rumah sakit sesampainya disana ayah langsung menggendong Felix dan berlari menuju kedalam rumah sakit, Felix masih tidak mengerti apa yang terjadi dan hanya bisa diam . Tiba-tiba ayah menurunkan Felix didepan sebuah ruangan dan Felix akhirnya tidak dapat menahan rasa penasarannya.

“ayah, kenapa kita ke rumah sakit sih yah?” Tanya Felix dengan sedikir merengek karena penasaran

Ayah Felix hanya bisa terdiam saja dan tidak menjawab pertanyaan Felix.

“ayah, jawab Felix dong yah, bunda mana kalo begitu biar Felix tanya bunda saja abis ayah ngga mau jawab pertanyaan Felix dari tadi” nada ingin menangis terdengar dari Felix

Dan dengan rasa yang tidak tega, ayah berusaha untuk tegar dan akhirnya mau menjawab pertanyaan Felix:

“bunda, lagi ada dikamar itu Felix”

“loh kok bunda di rumah sakit? Emang bunda sakit apa yah?”

“bunda tadi kecelakaan sayang” sambil menghela nafas panjang dan mencoba terlihat tegar didepan Felix

“tadi bunda sehat kok yah pas nganterin Felix ke sekolah tapi kenapa bunda bisa kecelakaan?” hanya ada kebingungan di pikiran Felix karena belum mengerti benar apa yang sesungguhnya terjadi

“Felix, sekarang doain bunda yaa biar cepet sembuh” nasihat ayah

“iya yah, itu pasti” jawab Felix

Ternyata bunda mengalami kecelakaan ketika bunda ingin pulang setelah mengantar Felix ke sekolah. Jadi pada saat itu, bunda ingin menyebrang jalan dan tanpa sengaja dompet bunda jatuh di tengah jalan dan secara reflek bunda mengambil dompet tersebut akan tetapi tanpa disadari ada truk yangmelintasi jalan tersebut dengan kecepatan tinggi. Karena bunda sedang membungkukan badan untuk mengambil dompet tersebut, si sopir truk tidak dapat melihat bunda dan tabrakan itupun tidak dapat terhindarkan, bunda juga tidak sempat menyelamatkan diri karena telat mengetahui adanya truk tersebut.

Bunda terlempar cukup jauh kurang lebih 100 meter dan bunda langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keadaan bunda dari tadi masih sama yaitu koma, bunda mengalami pendarahan yang cukup hebat diotaknya. Ketika ayah mendapatkan telpon dari rumah sakit, ayah langsung buru-buru keluar kantor dan menjemput Felix karena jarak rumah sakit tidaklah jauh dari sekolah Felix.

Keadaan bunda tidak ada perubahan yaitu masih koma dan sekarang sudah dipindahkan ke kamar perawatan jadi ayah dan Felix bisa menjaga bunda. Karena kejadian ini, Felix sudah tiga hari tidak bersekolah dan selama tiga hari itu pula Felix menjaga bunda dan ia tidak ingin pulang. Disamping tempat tidur bunda, Felix duduk sambil memegang tangan bunda dan berharap bunda bisa bangun. Felix berpikir kalo bunda hanya tertidur biasa tapi ia bingung kenapa sudah 3 hari bunda tidak bangun dari tidurnya.

“bunda bangun dong, Felix kangen sama senyuman bunda masa bunda tidur lama banget sih tapi Felix tetep disini buat jagain bunda kok biar bunda ngga kecelakaan lagi. Kasian kepala bunda sampe diperban gitu, Felix ngga mau nangis di depan bunda kan bunda paling ngga suka kalo ngliat Felix nangis.” Ucapan polos Felix yang masih kecil terdengar di kamar itu.

“bunda, dikit lagi valentine loh dan Felix pengen kasih bunda sama ayah coklat. Udah Felix beli kok masih ada di kulkas dapur. Felix sayang sama ayah dan bunda jadi Felix kasih coklat deh, bunda bangun yaa biar coklatnya bisa kita makan bareng-bareng sama ayah juga.” Ujar Felix dengan polosnya.

Hari ini merupakan hari keempat bunda dirawat di rumah sakit dan pada saat malam hari ketika Felix sudah tertidur, ayah yang menjaga bunda dan melihat alat pendeteksi detak jantung bunda mulai menurun, segera ayah memanggil dokter dan selama 10 menit dokter memeriksa bunda dan ketika keluar dokter menyampaikan apa yang terjadi ke ayah:

“pak, maafkan kami segala usaha untuk mempertahankan istri bapak sudah kami usahakan tapi istri bapak sudah tidak bisa menahannya sakitnya lagi. Pendarahan di otak istri bapak sudah parah sekali dan tadi ketika saya ingin memeriksa istri bapak, istri bapak sudah tidak ada kami pikir masih ada harapan tapi nyatanya Tuhan berkehendak lain pak, sekali lagi maafkan kami.”

“dok, tolong periksa ulang istri saya dok tolong!” teriak ayah

“maaf pak, kami sudah memeriksa istri bapak lebih dari lima kali tapi hasilnya sama saja.”

“ngga mungkin dok! ngga mungkin!” syok mendengar berita yang dikabarkan dokter, ayah langsung lemas dan terduduk di kursi

Ayah langsung mengabari anggota keluarga yang lainnya sedangkan Felix masih tertidur pulas di sofa kamar.

“apa yang harus aku katakan ke Felix? ia begitu sayang bundanya.” Pikir ayah dalam hati

“Tuhan, kenapa mesti istriku yang Engkau panggil? Aku bingung untuk membicarakan hal ini ke Felix” ujar ayah dalam doa kecilnya.

Kurang dari satu jam hampir seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di rumah sakit dan ada yang bersama ayah mengurusi segala keperluan bunda untuk keluar dari rumah sakit dan hendak dibawa pulang untuk disemayamkan sementara Felix dibawa tantenya ke mobil untuk pulang terlebih dahulu dan ia masih tertidur di pelukan tantenya dengan pulas.

Hari telah berganti dan hari ini adalah hari Senin ketika Felix bangun ia baru menyadari bahwa ia tidak di rumah sakit lagi melainkan di rumahnya sendiri dan saat ia turun ke bawah, ia melihat keramaian di rumahnya. Langsung saja Felix mencari ayahnya dan mendapati ayahnya disamping kotak kayu ketika ayah melihat Felix, ayah langsung memeluk Felix erat-erat.

“Felix, kalo bunda pergi ke rumah Tuhan Felix marah ngga?” Tanya ayah dengan menahan tangisnya

“ke rumah Tuhan?” Tanya Felix heran

“iya sayang.”

“Felix ngga marah kok yah soalnya bunda pernah bilang suatu saat nanti bunda, ayah, sama Felix akan ke rumah Tuhan terus kata bunda rumah Tuhan itu rumah yang paling indah dan pasti ada yang jagain kita yaitu Tuhan.” Jawab Felix

“Felix , sekarang bunda udah ke rumah Tuhan lebih dulu daripada kita tapi ayah yakin bunda senang disana” ayah mencoba menerangkan ke Felix

“terus yang lagi tidur di kotak itu siapa yah?”

“itu bunda sayang, sekarang bunda mau kita anter ke rumah Tuhan soalnya Tuhan pengen bunda ke rumah-Nya sekarang.”

“jadi bunda mau pergi sekarang yah? Terus ntar Felix gimana dong yah masa ditinggal sendirian?” Tanya Felix dengan heran.

“Felix ngga sendirian kok kan masih ada ayah trus suatu saat nanti kita akan ketemu bunda lagi dan berkumpul di rumah Tuhan.” Dengan ketegaran yang masih ada ayah mencoba untuk menjelaskannya

“oo begitu toh yah, o iya yah sekarang tanggal berapa ya?” Tanya Felix tiba-tiba

“tanggal 14, memangnya ada apa?” balik ayah bertanya

“bentar ya yah Felix mau ambil sesuatu di dapur.”

Langsung saja Felix melompat dari pangkuan ayahnya dan berlari ke dapur. Dengan terburu-buru ia membuka kulkas di dapurnya dan mengambil sesuatu. Kembali Felix berlari menuju ayahnya yang sedang duduk disamping peti mati bunda.

Peti mati bunda diletakkan tidak terlalu tinggi jadi Felix dapat melihat bundanya yang sudah terbaring kaku disana. Felix langsung menggapai peti itu dan melihat bundanya lalu Felix meletakan sebatang coklat yang dibelinya di warung kira-kira satu minggu yang lalu. Saat melihat itu ayah langsung bertanya ke Felix:

“itu apa nak?” Tanya ayah dengan heran

“ini coklat untuk bunda yah”

“hahh coklat? Untuk apa?” ayahpun semakin heran dan kaget

“iya yah itu coklat untuk bunda. Sekarang kan tanggal 14 Februari jadi hari ini hari valentine dan Felix udah beliin coklat buat bunda, Felix juga mau yah ngrayain valentine, hari kasih sayang kan Felix sayang bunda.” jawab Felix dengan senyuman kecil dibibirnya.

Seketika itu juga ayah ingin menangis tetapi masih ditahan dan Felix melihat genangan air dimata ayahnya yang hampir jatuh.

“ayah ngga usah sedih, Felix juga punya kok buat ayah.. ini yah” sembari memberikan coklat ke ayah.

“tapi coklatnya bunda buat apa ditaro disampingnya bunda sayang?

“ayah, bunda kan mau ke rumah Tuhan jadi bunda bisa ngrayain valentinenya sm Tuhan hari ini kan bunda sama Tuhan saling menyayangi jadi coklatnya bisa dibagi sama bunda buat Tuhan. Kalo ayah sama Felix aja yaa bagi-bagi coklatnya jadi biarin bunda bawa coklatnya ke rumah Tuhan makanya Felix taro di sampingnya bunda biar ngga ketinggalan juga yah.” Jawaban yang sangat polos terlontar dari anak berumur 7 tahun.

Ayah tidak dapat menahan air matanya lagi dan langsung memeluk Felix sambil menatap wajah bunda di peti mati. Sungguh tak rela ayah membiarkan bunda pergi sedangkan Felix masih belum mengetahui apa yang sesunguhnya terjadi. Kepolosan Felix semakin membuat ayah ingin menangis saat ingin melepaskan bunda.

Saat peti mati ditutup, coklat itu dibiarkan di peti mati bersama bunda dan dan di coklat itu terselip secarik kertas bertulisakan “Selamat hari valentine bunda, Felix sayang bunda sampai kapan-pun. Coklat ini untuk bunda, dimakan yaa bunda. Dari: Felix, Untuk: Bunda”

Tidak penting barang apa yang kita kasih saat hari kasih sayang tiba entah itu mahal atau ukurannya yang besar ataupun barang yang paling bagus tetapi yang terpenting adalah hati kita untuk orang yang kita sayangi. Dengan ketulusan hati yang kita berikan, kasih sayang akan jauh lebih terasa.

We loved with a love that was more than love.  ~Edgar Allan Poe

sumber gambar: google

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun