Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Di Sela Susuku yang Hening

23 April 2019   21:43 Diperbarui: 23 April 2019   22:30 471 22
Akan selalu ada dengkus dari sepasang cuping hidungmu, ketika pagi belum utuh, ketika bumi masih mengantuk, di sela susuku yang hening. Kita adalah cinta yang menolak beku, yang menjemput api, yang mencintai hidup.

Seberapa tangguh kamu menahan letup gairah? Aku yakin, kamu tidak akan bertahan lama. Gairah berahi mungkin sanggup kamu tanggung, tetapi kamu belum tentu mampu menahan gairah ingin disanjung.

Kamu mahir memunggungi masa lalu, tetapi kamu payah dalam urusan melupakan desahku. Kamu pintar merancang masa depan, tetapi kamu bodoh dalam hal memuaskan harapanku. Kamu boleh berpura-pura di depan banyak orang, tetapi sandiwaramu basi di hadapanku.

Setelah kaukecup keningku, setelah senyap beranak di mataku, setelah sejenak lidahku mengelu, aku ingin bertanya kepadamu. Seperti apakah perempuan bagimu? Sekadar selimut penghangat tubuhmu? Atau nyawa bagi hidupmu? Sudah lama aku ingin menanyakan hal itu. Tetapi, jawabanmu hanya bisu.

Televisi menemani kita mengeringkan peluh. Di layarnya, penjual obat sedang mengumbar ambisi. Mata kita sepakat, berahi pada kursi sungguh berbahaya. Dingin cuaca menemani kita mengerangkan keluh. Di jendela, sisa-sisa desah kita menghambur ke jalan. Kita beku, kita kelu.

Ada gelombang gairah meletup di matamu. Televisi makin sibuk mengabarkan serakah. Mata kita malah asyik mengobarkan gairah. Kita lupakan menang dan kalah, hidup dan mati, dosa dan pahala, juga surga dan neraka. Di ranjang, napas kita memburu waktu.

Akan selalu ada hangat di sepasang lenganku, ketika hidup kauduga selalu menegangkan, ketika mati kaukira lebih menenangkan. Aku, katamu, nyawa bagi harapanmu yang lusuh. Kamu, kataku, jiwa bagi doaku yang luluh.

Amel Widya

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun