Rembulan tenggelam di pelupuk mata
Ketika awan berarak menutupi pandangan
Malam mengantar sunyi perlahan
Di bawah remang cahaya tak ada paradigma
Penghuni kota hibuk dalam tidur panjang
Sementara esok tak ada kejelasan
Bahkan sekadar memupuk setitik asa
Serasa suram masa depan
Dalam kesepian kian meraja
Terdengar sayup di kejauhan
Ada suara menyentuh kalbu menyejukkan
Terenyuh mendengarnya
Kuhampiri dengan perlahan
Semakin dekat, semakin syahdu, semakin meneduhkan
Kuintip dari celah dinding kayu tua
Sepasang kekasih abrar khusyuk dalam wiridan
Dengan sebuah lampu pijar redup, minim cahaya
Mereka hanyut mengeja lafaz-lafaz
Kulihat titik-titik air mengalir di pipinya
Lantai tanah ia bersimpuh basah seketika
Di penghujung doa-doanya
Kudengar bisikan lembut mereka;
Tak ada alasan untuk mengeluh, pasrah, berburuk sangka
Tuhan menguji hamba sebatas kemampuannya
Balikpapan, 05.08.2021
Ali Musri Syam Puang Antong