Mohon tunggu...
KOMENTAR
Dongeng Artikel Utama

Dongeng Negeri Bayangan

15 Mei 2015   20:35 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:00 68 0
Syahdan di Negeri Bayangan, pernah tercetus kisah sepasang ulat betina. Nasib mempertemukan mereka melalui naungan kekecewaan, dan menasbihkan keduanya ke dalam ikatan persaudaraan tanpa pertalian darah.

“Aku ingin tetap aku, cuma aku,” ucap ulat yang lebih kecil, sebal dengan segala macam ide tentang pernikahan yang bebal. Di matanya, pernikahan memang tak pernah terlihat sakral. Seringkali tersaji dengan amat brutal. Ada istri yang ditendang hingga jengkang. Ada suami yang lari pagi tanpa pernah lagi ingat kembali -Kabarnya ia kini bercengkerama bersama makhluk jejadian yang menyamar sebagai pelayan- meninggalkan begitu banyak masalah, juga begitu banyak luka trauma yang masih saja gemar menganga.

Tapi akhirnya si ulat kecil menikah juga, dengan seorang tukang sihir yang mengulum susuk di ujung lidah, serta beberapa berkas mantera di setiap posting fesbuknya. Dan anehnya, mereka tetap bisa berbahagia. Tanpa syarat, juga tanpa ketentuan apapun. Barangkali bahagia memang melulu cuma tentang rasa.

“Bagaimana dengan ending si ulat yang lebih besar?” kali ini istriku yang bertanya, sosok mungil yang barangkali di masa sebelum ini pernah menyaru sebagai ulat atau lalat.

“Dia telah pergi…” jawabku singkat, padat, tanpa pernah bisa menyembunyikan gundah yang entah mengapa terasa begitu pepat.

“Kehidupan telah mengubahnya menjadi seekor sriti” ucapku lagi, sambil diam-diam mengenang kepak sayap rapuhnya yang menukik kesana-kemari. Terbang, melintasi kelindan hati, membawa serta aroma senja yang terselip waktu hingga ke pusat kedalaman jiwa, juga seucap senyap yang kerap menggertap hingga kata memaknainya sebagai liukan kesunyian.

“Tapi aku lupa meraba garis tangannya,” sesalku, memaksa kami lebih banyak terdiam setelahnya.

“Apakah dia juga bahagia…?” kejar istriku.

“Dari pengakuannya, dia bahagia. Juga kesehariannya yang banyak menampilkan itu…” raguku.

Tapi benarkah dia bahagia? Sepertinya hanya Tuhan yang paling tahu tentang hal itu. Sebab seperti kebanyakan orang, kami juga tak pernah benar-benar mengerti apa itu bahagia. Terutama ketika tawa dan tangis tak lagi bisa menjadi pembedanya. Seperti juga cinta, yang entah mengapa seperti tak hendak usai bersalin rupa antara rindu dan bencinya. Ah…

Secangkir Kopi di Negeri Bayangan-015

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun