Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Membangun Karakter Qur’ani

23 Mei 2011   23:55 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:18 305 0

Dalam rangka Dies Natalis ke-47 Universitas Negeri Yogyakarta menggelar “Semakan Al Qur’an dan Mujahadah” dengan menghadirkan 10 Tahfidz dari Ponpes Krapyak dan KH. Tulus Mustofa, Lc. Acara yang di konsep seharian full menyimak Al Qur’an menjadi puncak acara rangkaian agenda Dies Natalis, sabtu (21/5). Lantunan ayat Al Qur’an 30 juz menggema seharian penuh di Masjid Mujahidin UNY.

“Menghadirkan Hafidz dan Hafidzah untuk menginspirasi, dalam gerakan bebas huruf Al Qur’an, tahun depan sertifikasi bebas huruf Al Qur’an menjadi syarat untuk para mahasiswa yang yudisium”, jelas Prof. Rochmat Wahab di sela-sela pembukaannya. “Hal ini untuk membekali para lulusan agar tidak hanya cerdas secara akademik saja, masa sarjana muslim tidak bisa membaca Al-Qur’an”, lanjut rektor UNY ini.

Pendidikan karakter yang menjadi grand tema dies natalisinclude dalam agenda ini. Karakter Qur’ani yang menjadi titik tolak pelaksanaan kegiatan ini selaras dengan visi besar UNY 2025. Menjadikan lulusan UNY menjadi insan yang bertaqwa, mandiri dan cendikia. Senada dengan tema dies kali ini, KH. Tulus Mustofa menyampaikan betapa pentingnya pendidikan karakter. Adapun pendidikan karakter seharusnya bukan hanya dalam konsep saja namun dalam tataran aplikasi.

Berbicara tentang karakter, tidak lepas dari proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) papar KH. Tulus Mustofa Lc. “Ada 6M yang harus dimiliki seseorang dalam membangun karakter pada dirinya, M yang pertama adalah Musyarathah yakni diolog internal, berani bertanya pada diri sendiri, apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang muslim. M yang kedua adalah Muroqobatullah, meyakini atas dirinya dalam pengawasan Allah. M yang ketiga adalah Mujahadah, melakukan usaha-usaha untuk melawan nafsun. M yang keempat adalah Muhasabah, introspeksi diri dan senantiasa mengevaluasi diri atas segala usaha yang telah dilakukan. M yang kelima adalah muaqabah yakni menghukum diri sendiri apabila melakukan kesalahan. Dan M yang terakhir adalah Muatabah ‘alannafsi (mengkritik diri) mencela diri, penyesalan atas segala kesalahan hingga senantisasa berupaya memperbaiki dirinya”, jelas ketua IKADI Yogyakarta ini.

“saya sangat mengapresiasi agenda mujahadah, rangkaian Dies Natalis tahun ini beda tahun-tahun sebelumnya dengan adanya agenda yang bernuansa religius ini, harapannya dapat dilaksanakan agenda-agenda serupa namun ada kerja sama dengan seluruh gerakan atau keluarga mahasiswa muslim di Universitas Negeri Yogyakarta”, ungkap Mubariz Nazuhaddin selaku ketua divisi kemasjidan Masjid Mujahidin. (Aeny)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun