“Lho, aku tuh pengen kasih tau si Yanti, jagoan dia itu masa lalunya kelam banget, masa pelanggar HAM dipilih buat pimpin negeri ini?” Paijo berapi-api. “Memang sudah terbukti itu mas ?” Panjul kembali menimpali, kali ini tangannya langsung saya keplak, ketika mulai mendekati es jeruk saya yang sudah tinggal 1/4 gelas. “Ndak boleh gitu lah, kita itu cari pemimpin untuk masa depan bukan karena masa lalu” mbah Dur, bartender di warung kopi tempat kami nongkrong ini tiba-tiba ikut serta dalam diskusi kami. “Raden Said dulu juga terkenal sebagai perampok, biarpun perampok budiman, yang membagi hasil rampokannya kepada orang miskin, tapi buat sebagian orang yang lain yang ndak ngerti, Raden Said itu ya tetap perampok. Sampe akhirnya, beliau ketemu Sunan Bonang yang kemudian melatih beliau sehingga menjadi Sunan Kalijogo, salah satu wali Allah yang paling visioner … jangan liat sekedar masa lalunya, tp liat juga potensi yang dimiliki untuk sekarang dan masa yang akan datang, mungkin itu pemikiran Sunan Bonang waktu itu terhadap Raden Said” mbah Dur berucap sambil mengaduk kopi 32 kali ke kiri dan 32 kali kanan, ciri khas kopi pesanan Paijo. Kami bertiga manggut-manggut.
“Tapi mbah, si Jokowi itu katanya anaknya orang china, Tau Ming Tse, atau siapa gitu? kan dia non-muslim dan bukan jawa mbah” Panjul kali ini yang bertanya, setelah sebelumnya pindah duduk ke sisi lain di sebelah saya, takut dibogem mentah oleh Paijo. “Kamu tau cerita Nabi Ibrahim, Njul” simbah menimpali, matanya menatap tajam ke Panjul yang sedang sibuk mengelompokkan cabe merah dengan cabe hijau dan diurutkan dari cabe yang paling kecil ke paling besar. “Nggih semerap toh mbah” Panjul menjawab “terus apa hubungannya dengan Jokowi yang katanya anak Pay Su Chen itu ?”, “ya banyak, nabi Ibrahim itu anak seorang pembuat berhala paling terkenal zaman itu, tapi kita semua tahu bagaimana cerita selanjutnya” si Mbah berhenti sejenak, dia meletakkan kopi yang sudah diaduknya di depan Paijo yang kali ini tersenyum karena seolah mbah Dur membela jagoannya. “Kan-an itu juga kurang apa, dia anak nabi Nuh, salah satu nabi besar yang diakui 3 agama, tapi toh … dia juga ndak mengikuti ajaran ayahnya … jadi keturunan itu bukan jadi hal mutlak terhadap kualitas seseorang” mbak Dur menyambung ulasannya.
“Lha yang bener yang mana dong mbah ? tadi dukung Prabowo kok akhir2 mbelain Jokowi” tanya saya. “Pilihanku ra penting sampean ketahui, aku punya hak untuk memberi tahu atau untuk merahasiakan, tapi yang penting kalian ojo tukaran masalah capres, jangan berantem di warung saya atau sampe keliatan di timeline fesbuk saya” mbah Dur berujar kalem sambil menunjuk ke smartphone-nya. Bartender kampung macam Mbah Dur ini ternyata gaul juga, pikir saya. “Kita semua punya pikiran masing-masing untuk menelaah informasi yang ada dan menetapkan pilihan kita. Perbedaan itu sunatullah, akan selalu ada sampai akhir zaman. Kabarkan kebaikan dan kekuatan calon sampean, tanpa harus menjatuhkan calon yang lain, apalagi kalau berita-berita jelek itu baru sebatas katanya dan belum tentu terjamin kesahihannya” ucap mbah Dur lagi
Kami terdiam, mencoba memaknai apa yang diungkapkan mbah Dur.
“Asyem si Paimin ngunfriend aku juga” teriak Paijo lagi, yang tentu saja membuyarkan keheningan kami merenungkan petuah-petuah mbah Dur. “Lha bukannya Paimin itu juga relawan Jokowi tho” tanya saya kepada Paijo … “Iya sih, kami sama-sama dukung Jokowi” Paijo menjawab. “Lha terus apa masalahnya ? Kok ngunfriend kamu” Panjul segera bertanya ndak sabar seperti seorang wartawan infotainment yang sedang kehabisan bahan berita dan sudah mendekati waktu deadline untuk disetorkan kepada redaksinya. “Itu dia njago Argentina jadi juara Piala Dunia sedangkan aku njago Brazil” keluh Paijo dengan nada kesal