Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Alkumis yang Kembali

24 Mei 2022   06:02 Diperbarui: 24 Mei 2022   06:07 89 1
Setelah berkelana menempuh perjalanan yang cukup jauh, melintasi daratan dan lautan, dibakar terik matahari, disiram  hujan dan diterpa angin. Haripun berganti, bulan berjalan dan tahun berbilang.

Di suatu malam bulan purnama Alkumis terduduk lelah di bawah sebuah pohon rindang yang disusupi cahaya  bulan di celah-celah dedaunan. Alkumis termenung. Teringat kampung halamannya, keluarga yang dia tinggalkan yang terdiri dari istri dan tiga orang anaknya, kedua orang tuanya, seorang kakak dan handai taulan lainnya.

Alasannya meninggalkan mereka semua karena mereka tidak membuatnya bahagia, anak-anaknya tidak penurut, istrinya sering tidak  patuh, orang tuanya masih suka mengatur seakan lupa bahwa dia sudah besar dan berkeluarga, mertuanya cerewet, kakaknya yang sewaktu dia kecil sangat sayang dan sering memanjakannya namun setelah kakaknya itu menikah dan punya anak seolah kurang peduli kepadanya. Belum lagi tetangga dan orang kampung yang gelagatnya seperti suka menggosipkannya.

Kesimpulannya, dia merasa semua orang tidak mendukung hidupnya dan tidak membuatnya bahagia. Akhirnya dia galau dan memutuskan meninggalkan mereka semua. Mencoba peruntungan baru, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bertahan hidup dengan bekerja serabutan.

Malam semakin larut, angin sepoi-sepoi mengantarkan Alkumis tertidur di bawah pohon rindang itu. Dalam tidurnya itu Alkumis didatangi oleh seorang kakek tua berjenggot panjang lancip, berpakaian serba putih.

Sang kakek bertanya kepadanya, kenapa dia berada di situ, jauh dari kampung halamannya. Lalu Alkumis menceritakan nasibnya dan mengatakan bahwa dia ingin mencari kebahagiaan yang tidak diperolehnya dari orang-orang sekitarnya.

Kemudian sang kakek memberikan nasihat kepadanya:

"Sosok yang paling bisa dan paling mungkin untuk membahagiakan dirimu adalah dirimu sendiri. Kesialan dan nasib buruk yang menimpamu silih berganti pada hakikatnya berasal dari ulah dirimu sendiri"

"Hanya dirimu seorang yang paling mungkin kamu atur, kendalikan dan kuasai atau harapkan untuk memenuhi semua keinginan dan cita-citamu untuk meraih kebahagiaan."

"Orang lain tidak ada yang persis sama denganmu, baik isi pikirannya, kesukaannya dan keinginannya. Intinya semuanya berbeda denganmu meskipun dia adalah orang-orang dekatmu, baik itu istrimu, anak-anakmu, orang tuamu, saudaramu bahkan orang yang kamu kagumi".

"Oleh karena itu berusahalah secara mandiri untuk membangun kebahagiaan dalam dirimu. Kurangi dan hilangkan rasa ketergantungan kepada pihak lain untuk mencapai kebahagiaan dirimu."

"Cukuplah Allah saja tempat bergantung dan berharap. Taatlah kepada-Nya semampumu. Banyak-banyaklah mengingat-Nya karena hanya dengan mengingat-Nya hatimu menjadi tenteram dan bahagia"

"Cintailah dirimu dengan mengikuti suara hatimu. Jangan pernah memaksakan diri untuk menyenangkan orang lain dengan kepura-puraan dengan alasan malu, takut atau mencoba mengambil hatinya padahal hatimu sendiri tidak suka. Itu berarti kamu mengkhianati hati nuranimu"

"Cukupi kebutuhan jiwamu dengan beribadah sebaik mungkin. Jaga lisanmu untuk hanya berucap yang baik. Jaga pikiranmu untuk selalu positif dan berbaik sangka kepada sesama manusia, terutama kepada Allah Tuhanmu. Dan jaga perasaan mu sendiri untuk selalu tenang dan damai, jangan mudah kagum dengan sesuatu yang baru, tidak mudah takut dan panik, tidak marah, tidak gampang sedih tetapi selalu berusaha untuk bahagia"

"Cukupi kebutuhan fisikmu dengan memberinya makanan dan minuman yang halal lagi baik dan tidak berlebihan. berusahalah untuk berpuasa di hari-hari tertentu di setiap minggu, olahraga secara teratur dan istirahat yang cukup".

"Bebaskan dirimu dari kebodohan, belajarlah tanpa henti, carilah ilmu sebanyak mungkin, karena ilmu adalah cahaya yang menerangi hidupmu maka himpunlah cahaya sebanyak-banyaknya kepada dirimu. Semakin terang jalan hidupmu maka semakin mantap langkahmu dan hilang keragu-raguanmu sehingga kamu dapat menghindari atau menyingkirkan segala bahaya yang mengancam perjalananmu.

Setelah menyampaikan nasihat itu, sang kakek menghilang sehingga Alkumis kaget dan terbangun". Lama dia merenungi mimpinya itu. Akhirnya dia mendapat kesimpulan bahwa " Ternyata kebahagiaan yang dia cari itu letaknya sangat dekat yakni berada dalam dirinya sendiri jika dia berdamai dengan hati nuraninya dan tidak menggantungkan harapan kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah semata".

Besoknya Alkumis berkemas dan segera pulang kampung untuk menemui keluarga yang sudah bertahun-tahun ditinggalkannya.

Sesampainya di kampung ternyata keadaan sudah berubah. Dia dapati rumah orang tuanya tempat dia dan anak istrinya dulu menumpang dalam keadaan kosong tidak terawat.

Menurut cerita kakaknya, setelah dia pergi,  orang tuanya sangat sedih dan mulai sakit-sakitan sampai akhirnya Ibunya meninggal kemudian disusul oleh ayahnya dalam waktu yang tidak begitu lama.

Oleh karena lama ditinggal tanpa nafkah dan kejelasan lalu Istrinya mengajukan perceraian ke Pengadilan kemudian menikah lagi dengan laki-laki lain. Anaknya yang ketiga yang paling kecil ikut dengan ibunya dan bapak tirinya, anak kedua ikut neneknya (bekas mertuanya) dan anak pertama yang telah remaja sudah putus sekolah sedang menjalani perawatan di Panti Rehabilitasi Narkoba dan Alkohol.

Setelah mengetahui ini semua, Alkumis termenung lama sekali sampai dia disadarkan oleh suara azan dari surau tua di kampung itu. Dulu surau ini tempat dia mengaji di waktu kecil dan juga tempat dia dan kawan-kawannya belajar silat. Dia berjalan gontai ke surau itu. Di sana dia solat dengan khusyuk lalu berdoa cukup lama sampai dia tertidur karena lelah jiwa dan raganya.

Dalam tidur itu sang kakek muncul lagi dalam mimpinya dan menasihatinya lagi:

"Jangan berputus asa dari rahmat Allah"

"Paksalah dirimu untuk bangkit, karena Tuhan akan membantumu"

"Hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini dengan melakukan yang terbaik, semesta akan mendukungmu"

Setelah terbangun Sang Alkumis bertekat untuk memulai hidup baru.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun