Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Suatu Pagi Ketika Ocrett Tiba-tiba Menghilang

1 Maret 2020   11:12 Diperbarui: 1 Maret 2020   11:40 119 2
Suatu ketika Ibu membawa pulang seekor kucing. Tubuhnya kurus, penuh ingus dan mengeluarkan aroma tak sedap.
"Kasian, dia kelaparan." Kata Ibu.
"Nemu di mana, Mak?" tanya saya sembari meraihnya.
"Di pabrik." balasnya.

Awalnya saya bingung mau memanggilnya apa, tp karena tetangga saya lebih suka memanggilnya "Ocrett" maka saya pun ikut-ikutan.

Makin lama tubuh Ocrett semakin berisi dan berbau wangi. Ibu kerap memandikannya dengan sabun. Meski Ocrett tidak suka dimandikan dan selalu menolak dengan meronta-ronta, ibu tetap saja memandikanya. "Biar tak kutuan" katanya.

Setelah mandi Ocrett kerap membuang muka pada kami. Ia akan membalikkan badan setiap kami dekati. Rupanya kucing juga bisa ngambek.  sama seperti manusia. Ocrett bahkan menolak handuk yang kami balutkan ke tubuhnya.

Ocrett lebih memilih ke luar rumah dan berdiam diri di tempat yang terkena sinar matahari. Setelah kering, ia akan berguling-guling lagi ke tanah.

Yah, dasar si Ocrett. Sia-sia sudah saya memandikannya. Tapi mau bagaimana lagi, jika  saya dekati ia akan semakin berlari.

Ocrett cepat sekali beradaptasi dengan keluarga kami. Pernah ia pup di kursi tamu dan tentu saja kena marah. Saya lalu mengajarinya, saya bergeleng-geleng sembari menunjuk pup dia di kursi tamu lalu mengangguk-angguk ketika saya menunjuk jamban.

Percaya atau tidak setelahnya ia selalu pipis di jamban namun untuk pup ia memilih di luar, di balik sisa-sisa pasir di halaman depan rumah.  

Kehadiran Ocrett membawa keceriaan di keluarga kami. Rupanya info bahwa kucing membawa dampak positif secara psikologis itu benar adanya. Saya merasa memiliki teman baru dan lebih merasa bahagia. Selain itu menurut infonya, memiliki hewan kesayangan juga dapat mengurangi tingkat stress.  Rupanya Ocrett diam-diam adalah dokter kebahagiaan kami.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun