Beberapa hari yang lalu beberapa media berita online menyajikan artikel tetang potensi wisata udara di Gunungkidul. Berita ini sangat menggembirakan karena sudah saatnya kita menyadari bahwa kegiatan penerbangan tidak hanya sebagai moda transportasi saja melainkan juga dapat menjadi salah satu kegiatan wisata
Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada beberapa perusahaan yang menciptakan kendaraan terbang pribadi (bukan mobil terbang) berukuran compact yang dapat beroperasi di atas laut Dengan kendaraan ini penggunanya bisa terbang dari satu pulau ke pulau lainnya atau island hopping.
Setelah membaca artikel tersebut di beberapa media berita online dan juga artikel lain yang berkaitan dengan berita tersebut, penulis kemudian memahami apa yang dimaksud dengan wisata udara tersebut yaitu penerbangan yang bertujuan untuk melihat pemandangan alam dari udara.
Penerbangan wisata ini disebut dengan "Scenic Flight" atau Sighseeing Flight atau Air Tour dengan menggunakan pesawat bersayap tetap ukuran kecil (ringan) ataupun pesawat dengan sayap putar (helikopter).
Kegiatan penerbangan ini sebenarnya sudah umum dilakukan dan juga sudah tersedia di banyak destinasi wisata di dunia. Termasuk Bali dan juga Banyuwangi sudah memulainya.
Namun menurut penulis bila ingin mengembangkan wisata udara, sebaiknya dilakukan dengan cara yang berbeda, serta yang dapat memberikan pengalaman yang lebih kepada wisatawan, tidak hanya sekadar pengalaman scenic flight-nya saja.
Penggunaan helikopter pada scenic flight memudahkan helikopter mendarat tanpa adanya landasan pacu, penyedia tur bisa menyiapkan spot yang dapat dijadikan kegiatan khusus wisatawan seperti picnic lunch di mana spot tersebut bisa berlokasi di kawasan yang sangat jauh dari dari suara kehidupan manusia. Bisa di tengah gurun, di pinggir tebing dan lainnya.
Jika ada investor yang bisa membangun penginapan yang berlokasi sangat jauh dari kehidupan (in the middle of nowhere) akan lebih bagus lagi karena di sini wisatawan dapat menikmati ruang dan waktunya secara privat dan dengan privasi total.
Alternatif lainnya bisa berkordinasi dengan Federasi AeroSports Indonesia (FASI) untuk kegiatan terbang layang bila kontur memungkinkan (adanya bukit) dengan juga menyediakan fasilitas pendukung lainnya seperti restoran dan penginapan.
Dan bila area yang tersedia sangat luas, bisa membangun pusat kegiatan olahraga kedirgantaraan dengan lapangan terbang (bukan airport), ini akan menjadikan Gunungkidul seperti memiliki sirkuit balap motor ataupun mobil di Lombok.
Namun apabila ingin membangun bandara, menurut opini penulis akan lebih efektif bila bandara yang dibangun bukan bandara komersial (umum) tetapi bandara wisata (khusus), dengan begitu penerbangan pada general aviation di Indonesia juga bisa tumbuh.
Olahraga kedirgantaraan sangat bervariasi. Di antaranya mencakup terjun payung, glider dan ultra light. Bila dikembangkan dengan baik bisa menjadi venue perlombaan olah raga kedirgantaraan bertaraf international.
Selain itu bisa pula mendirikan pelatihan terjun payung dan pelatihan beberapa olah raga kedirgantaraan lainnya, gambaran akan fasilitas seperti ini dapat dilihat pada film "Drop Zone" yang dibintangi Wesley Snipes.
Pada akhirnya tidak saja menjadi destiinasi wisata udara saja tetapi juga menjadi destinasi dan pusat aerosports bertaraf internasional.
Mudah mudahan wacana ini bisa terwujud karena akan memberikan manfaat berlipat ganda dari kegiatan kegiatan scenic flights, pusat olah raga kedirgantaraan serta pusat kegiatan general aviation dengan pesawat pesawat pribadi, recreational aircraft (sports aircraft) dan pesawat pada ultra light aviation.
Referensi:
- yogyakarta.kompas.com/read/2023/01/18/113141678/punya-alam-luas-gunungkidul-wacanakan-wisata-penerbangan
- en.m.wikipedia.org/wiki/Ultralight_aviation
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI