Mohon tunggu...
Kiki firmansyah
Kiki firmansyah Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Menulislah! jika kamu bukan anak seorang raja, atau bukan juga anak seorang ulama besar. -Imam Al Ghazali.

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Mengetuk Pintu Surga

4 April 2022   04:24 Diperbarui: 4 April 2022   05:53 1433
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi gambar: seseorang sedang berdoa & mengaharapkan ridha Allah agar dapat pintu surga dibuka selama dalam bulan suci Ramadhan sumber: infotaraq.

Saat kanak-kanak dulu, ada perasaan senang yang magis saat Ramadhan, bulan penuh berkah itu datang. Suasana bangun di waktu sahur, lalu makan sahur dengan keluarga, mendengar adzan Subuh dan berangkat pergi bersama teman-teman menuju Mesjid, setelah iru, biasanya, kita lebih senang bermain, sendau gurau, atau jalan berkeliling bersama hingga matahari terbit, baru kita pulang kerumah. Indahnya, sulit digambarkan. Apalagi suasana ceria menunggu bedug magrib.

Bergembira menyambut bulan Ramadhan sudah mendapat ganjaran yang besar yaitu, akan dijauhkan dari api neraka sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Nasa'i dinyatakan, 

"Barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka".

Kini, seiring beranjaknya usia tanpa sadar rasa senang itu mungkin makin sulit dirasakan. Sebagian diantara kita sibuk dan disibukan oleh banyak urusan. Sibuk mengurusi pekerjaan, keluarga, sekolah dan lain-lain. 

Bahkan mungkin ada juga yang merasa ketika memasuki bulan suci dengan perasaan jengah, sedih lantaran waktu istirahat terganggu, fisik lemah di siang hari. Inna lillah. Semoga Allah menjauhkan perasaan itu. Sebab, itu adalah bagian dari bencana.

Lalu, bagaimana agar menumbuhkan lagi perasaan senang dan suka cita memasuki Ramadhan? Jawabannya tergantung seberapa dekat kita dengan Allah Swt. 

Artinya, perasaan senang itu bisa kita jadikan ukuran, sedekat apa kita dengan Allah Swt. Jika kita dekat dengan Allah, maka Allah pun dekat pada kita. Sebaliknya, ketika memberi jarak maka Allah pun menarik jarak. Ketika itu pula, mungkin Allah tak hendak memberi perasaan senang dalam hati kita

Itulah di antara janji-Nya, "Jika kau datang pada-Ku dengan berjalan kaki maka Aku akan mendatangimu dengan berjalan. Jika kau mendekati-Ku sedepa, Aku mendekatimu sehasta". 

Kenikmatan apalagi yang diharapkan makhluk selain rahmat dan ridho-Nya? Tak ada yang lebih besar dan lebih berharga selain itu.

Analoginya begini, bila ada seorang majikan dan pembantunya. Tak ada yang lebih nikmat dari pujian dan kerelaan majikan itulah, seorang pembantu menjadi rela melakukan apa saja untuk membuat sang majikan jatuh hati padanya. Jika hanya untuk ridho sang majikan manusia mampu melakukan apa saja untuk mengharap ridho Allah yang menciptakannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun