Mohon tunggu...
Kholid Harras
Kholid Harras Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Universitas Pendidikan Indonesia

Pemerhati pendidikan, politik, dan bahasa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pantun: Warisan Budaya Cermin Kecerdasan Berbahasa

17 Desember 2024   17:00 Diperbarui: 18 Desember 2024   13:46 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seorang warga berdiri di depan rumah yang dihiasi dengan pantun atau parikan di sela peresmian Kampung Parikan, Kamis (1/3), di RW 004 Morokrembangan, Krembangan, Surabaya, Jawa Timur | Kompas/Ambrosius Harto

Tampak sampan di tepi kali,
Melintas tenang di pagi hari.
Dari dulu hingga kini,
Pantun penuh makna selalu di hati.

Tanggal 17 Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari Pantun Nasional (Hartunas). Ini bukan sekadar selebrasi, tetapi momen penting untuk menghormati dan melestarikan warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas Melayu, termasuk di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Pada tahun 2024, Hartunas di tanah air diisi dengan berbagai kegiatan menarik di berbagai daerah, khusususnya di tanah Melayu. Misalnya Pekanbaru, Riau, Batam, Kepri;  Pontianak, Kalbar dan berbagai tempat lainnya. Semua kegiatan tersebut memiliki tujuan mulia: memperkenalkan dan melestarikan tradisi pantun kepada generasi muda sambil memperkuat identitas budaya Melayu.

Pantun, sebagai salah satu bentuk puisi lisan, lebih dari sekadar hiburan. Pantun adalah ekspresi kecerdasan berbahasa yang menggambarkan etika, logika, filsafat hidup, dan petuah-petuah yang sarat dengan kearifan lokal. 

Pengakuan UNESCO pada tahun 2020 sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) menegaskan bahwa pantun bukan hanya milik suatu bangsa, tetapi juga warisan dunia.

Perhelatan seminar nasional pantun di Pontianak, Senin (30/10/2023). | suarakalbar.co.id
Perhelatan seminar nasional pantun di Pontianak, Senin (30/10/2023). | suarakalbar.co.id

Cermin Kecerdasan Berbahasa

Pantun memiliki struktur yang unik dan kompleks. Setiap bait biasanya terdiri dari empat baris dengan pola rima a-b-a-b, di mana dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris terakhir adalah isi. Meskipun terdengar sederhana, menyusun pantun yang baik membutuhkan keterampilan berbahasa yang tinggi. Sampiran dan isi harus saling terkait secara logis, namun tetap menyampaikan pesan secara estetis.

Kemampuan memilih kata dengan rima yang pas menunjukkan kepekaan linguistik. Lebih dari itu, pantun sering kali memuat permainan kata yang mencerminkan kecerdasan kreatif. Setiap bait pantun adalah hasil dari pemikiran yang matang, karena pembuat pantun harus mampu menyusun kata-kata secara spontan tetapi tetap bermakna.

Di sisi lain, pantun juga merupakan sarana untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan budaya. Sebagai contoh, pantun-pantun adat yang disampaikan dalam upacara pernikahan sering kali penuh dengan nasihat tentang pentingnya menjaga harmoni dalam rumah tangga. Melalui pantun, nilai-nilai seperti gotong royong, kejujuran, dan penghormatan terhadap orang tua disampaikan dengan cara yang indah dan tidak menggurui.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun