Mohon tunggu...
Khoeri Abdul Muid
Khoeri Abdul Muid Mohon Tunggu... Administrasi - Infobesia

REKTOR sanggar literasi CSP [Cah Sor Pring]. E-mail: bagusabdi68@yahoo.co.id atau khoeriabdul2006@gmail.com HP (maaf WA doeloe): 081326649770

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Simpang Jalan di Rumah Reyot

29 November 2024   19:46 Diperbarui: 29 November 2024   19:46 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

OLEH: Khoeri Abdul Muid

Di bawah langit malam yang diselimuti awan kelabu, Laras duduk di ujung ranjang, wajahnya tertunduk lesu. Hujan rintik-rintik terdengar seperti melodi kesedihan yang mengiringi keheningan di kamar mereka.

"Bima, sampai kapan kita hidup begini?" tanyanya, suaranya nyaris tenggelam di antara derai hujan.

Bima, yang sedang menghangatkan tangan di dekat jendela, menoleh. "Apa maksudmu, Laras?"

"Maksudku... lihat rumah ini. Atap bocor, dinding mulai retak. Kamu kepala desa, tapi kita malah seperti orang susah." Laras menoleh, matanya basah oleh air mata. "Kamu nggak malu?"

Bima menarik napas panjang. Ia tahu percakapan ini akan mengarah ke mana. "Laras, aku tahu kita nggak hidup mewah. Tapi, aku nggak bisa mengorbankan prinsipku cuma untuk gengsi."

Laras berdiri, menghampiri Bima dengan langkah tergesa-gesa. "Prinsip? Apa prinsip bisa bayar utang? Apa prinsip bisa kasih masa depan untuk anak-anak kita?!"

Suara Laras meninggi, menggema di kamar kecil mereka. Bima memalingkan wajah, matanya menatap hujan yang terus turun. Dalam hatinya, ia merasakan luka yang dalam.

"Laras, hidup ini bukan soal siapa yang punya rumah besar atau mobil mewah. Aku jadi kepala desa untuk melayani, bukan mencuri."

"Melayani?" Laras tertawa sinis. "Kamu bahkan nggak bisa melayani kebutuhan istrimu sendiri. Jabatan kamituwa dan kebayan itu kosong, Bima. Kesempatan untuk kita ambil bagian! Kamu tinggal diam, sementara orang lain terus memperkaya diri."

Hening. Hanya suara hujan yang terdengar. Bima berbalik, menatap istrinya dengan mata yang berkilat oleh tekad.

"Laras, kamu tahu kenapa aku nggak mau melanggar aturan? Karena aku nggak mau anak-anak kita tumbuh tanpa rasa hormat pada ayah mereka. Kalau kita mengambil apa yang bukan hak kita, itu bukan cuma menghancurkan nama kita, tapi juga masa depan mereka."

Laras menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. "Aku nggak mau kalah, Bima. Aku capek jadi bahan gunjingan. Kamu nggak tahu rasanya dihina terus-menerus."

Bima mendekat, menggenggam tangan Laras dengan lembut. "Aku tahu, Laras. Aku tahu ini berat. Tapi kita harus percaya, semua ini akan membuahkan hasil. Lebih baik kita pelan, tapi sampai tujuan tanpa kehilangan diri kita."

Air mata Laras mengalir deras. Ia memeluk Bima, meski hatinya masih penuh kebingungan. Hujan terus turun, seolah membasuh luka mereka perlahan.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun