Sekilas, gosip mungkin tampak seperti perbincangan sepele. Namun dibalik gelak tawa dan percakapan santai tersebut terdapat motif yang lebih dalam yang mendorong orang untuk ngobrol. Fenomena sosial ini terjadi hampir di setiap lapisan masyarakat, mulai dari kedai kopi hingga ruang rapat perusahaan. Meskipun gosip sering kali dipandang negatif, gosip mempunyai penjelasan ilmiah dan memainkan peran kompleks dalam interaksi sosial kita.
Motivasi untuk bergosip berakar pada kebutuhan kognitif, sosial, dan emosional kita. Gosip membantu kita mengumpulkan informasi dan memahami dunia di sekitar kita. Kita dapat belajar tentang orang lain, mendapatkan informasi terbaru, dan bahkan memahami norma-norma sosial dengan bertukar cerita dan rumor. Gosip juga dapat memperkuat ikatan sosial dan membangun rasa persatuan dan kepemilikan melalui pengalaman bersama dalam kehidupan nyata. Saling bertukar gosip dapat menciptakan momen intim dan membangun kepercayaan antar manusia.
Namun, gosip juga mempunyai sisi gelap. Selain memutarbalikkan fakta dan merusak reputasi, gosip dapat menjadi sarana untuk melepaskan emosi negatif seperti stres dan kecemburuan. Faktanya, gosip bisa digunakan untuk mengontrol orang lain dan meningkatkan citra diri. Dalam konteks evolusi manusia, gosip dianggap berperan dalam membangun reputasi, memperkuat aliansi, dan mengidentifikasi ancaman sosial. Â Artikel ini akan membahas dasar neurosains dari fenomena ini dan mengapa otak kita cenderung merespons dengan cara tertentu terhadap informasi sosial.
Gosip Menurut Para Psikolog
- Jean Decety, seorang psikolog dari University of Chicago, menemukan bahwa gosip dapat merangsang bagian otak yang terkait dengan reward, keingintahuan, dan emosi.
- Ryota Kanazawa, seorang psikolog dari London School of Economics, menemukan bahwa gosip dapat membantu kita untuk memahami dunia di sekitar kita dan mempelajari tentang orang lain.
- Michael Tomasello, seorang psikolog dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, menemukan bahwa gosip adalah fenomena sosial yang telah ada sejak zaman dahulu dan memainkan peran penting dalam evolusi manusia.
Kenapa sih Orang Suka Gosip?
- Kebutuhan kognitif: Gosip membantu kita mengumpulkan informasi dan memahami dunia di sekitar kita. Gosip bisa menjadi cara untuk mengetahui tentang orang lain, peristiwa terkini, dan bahkan norma sosial.
- Kebutuhan sosial: Gosip dapat memperkuat ikatan sosial dan membangun rasa kebersamaan. Berbagi gosip dengan orang lain menciptakan pengalaman shared reality dan memperkuat rasa belonging.
- Kebutuhan emosional: Gosip bisa menjadi cara untuk melepaskan emosi seperti kebosanan, stres, atau kecemburuan. Gosip juga bisa menjadi alat untuk mengontrol orang lain dan meningkatkan citra diri.
- Kebutuhan evolusioner: Beberapa ahli berpendapat bahwa gosip memainkan peran penting dalam evolusi manusia. Gosip membantu membangun reputasi, memperkuat koalisi, dan mengidentifikasi ancaman sosial.
Gosip dari Lensa Neurosains
Neurosains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf manusia. Ilmu saraf dapat menawarkan wawasan baru mengenai gosip dari sudut pandang biologis. Studi ilmu saraf menemukan bahwa gosip merangsang bagian otak yang berhubungan dengan penghargaan, rasa ingin tahu, dan emosi. Dari segi neurosains, gosip dapat merangsang beberapa area otak, antara lain:
- Otak tengah. Otak tengah berperan dalam pemrosesan emosi, termasuk emosi positif seperti kesenangan dan kegembiraan. Gosip dapat memicu pelepasan dopamin, hormon yang terkait dengan kesenangan dan motivasi.
- Otak depan. Otak depan berperan dalam pemrosesan informasi, termasuk informasi sosial. Gosip dapat merangsang otak depan untuk memproses informasi tentang orang lain, termasuk informasi tentang perilaku, motivasi, dan hubungan.
- Otak limbik. Otak limbik berperan dalam pemrosesan emosi, termasuk emosi negatif seperti rasa takut dan kecemasan. Gosip dapat memicu pelepasan hormon stres, seperti kortisol, yang dapat meningkatkan rasa takut dan kecemasan.
Berikut ini adalah beberapa penelitian neurosains yang menunjukkan hubungan antara gosip dan aktivitas otak:
- Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada tahun 2010 menemukan bahwa gosip dapat merangsang pelepasan dopamin di otak.
- Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience pada tahun 2012 menemukan bahwa gosip dapat meningkatkan aktivitas di otak depan, terutama di area yang bertanggung jawab untuk pemrosesan informasi sosial.
- Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology pada tahun 2014 menemukan bahwa gosip dapat meningkatkan kadar kortisol di otak.
Dopamin dan Kesenangan