Saat membuka timeline Twitter, saya menemukan gambar yang memberi keterangan : Â Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bakal menggelar seri webinar Library Fest yang kedua dengan tajuk 'Mengukur kualitas perpustakaan berbasis akreditasi'. Acara itu baru akan dilaksanakan pada Rabu, 24 Maret 2021 mendatang.
Tapi saya sudah tidak sabar dan ingin mengawali percakapan ini dengan pikiran dan apa-apa yang pernah saya alami di dan tentang perpustakaan. Jadi begini, jika kita masih mengaamiini buku sebagai jendela ilmu, maka adanya perpustakaan tak ubahnya seperti jantung pengetahuan. Pada tataran itulah mestinya kampus-kampus berlomba dan berbenah.
Berkenaan dengan hal tersebut, selaku mahasiswa UMY, saya merasa senang karena wajah perpustakaan pusat UMY, makin kesini makin cantik, persis seperti anak gadis yang sedang tumbuh dewasa : pelan-pelan pandai merawat diri dengan berdandan.
Ini penting, karena perpustakaan memang sepatutnya di konsep sebagai tempat singgah bukan saja hilir mudik. Lagi pula, siapa yang sudi singgah apalagi berlama-lama dan menetap jika tempat itu suntuk, gelap, dan tak enak dipandang mata? Syukurlah, perpustakaan pusat UMY, tak seburuk itu, sebab tempat itu saat ini semakin ramah untuk mahasiswa, konsep yang ditampilkan kini semakin senafas dengan jiwa zaman. Tempat itu secara fisik kini jauh bertransformasi. Lebih eye catching.
Saya melihat ada banyak sekali orang. Entah untuk sekedar duduk mengerjakan tugas, tenggalam dalam dunianya sendiri, atau mereka yang bercakap-cakap santai dengan suara pelan, ada juga mereka yang menggelar rapat kecil tentang projects organisasi nya. Dan yang terpenting dari itu semua, perasaan senang saya bertambah ketika melihat antrian mahasiswa yang meminjam satu dua sampai bertumpuk-tumpuk buku penunjang untuk refrensi makalah atau skripsi. Kira-kira, begitulah potret perpustakaan kampus yang saya jumpai.
Tampilan segar seperti yang saya deskripsikan di atas, erat korelasinya dengan dorongan mahasiswa untuk datang ke dan mengakrabi perpustakaan.
Bagi saya, perpustakaan bukanlah ruang besar yang kosong dan hanya ada buku-buku tak terjamah, kursi reot, lalu pustakawan yang murung. Perpustakaan adalah ruang bertemunya manusia dengan manusia.
Dari situlah mereka akan menautkan ide dan gagasan satu sama lain. Perpustakaan adalah ruang kreativitas. Tukar tambah pengetahuan. Bila perlu, perpustakaan kelak menjadi monumen cinta. Tempat sepasang kekasih menautkan hati.
" Saya selalu membayangkan surga ." Â Ujar Jorge Louis Borges, Â sebentar kemudian ia meneruskan kalimatnya, " Seperti perpustakaan."
Saya berharap, pelan tapi pasti perpustakaan UMY bertumbuh jadi ruang yang lebih menyenangkan lagi. Mirip seperti yang dibilang Borges.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H