Mohon tunggu...
Kartika Kariono
Kartika Kariono Mohon Tunggu... Pengacara - Ibu Rumah Tangga

Mengalir mengikuti kata hati dan buah pikiran

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Berjalan ke Barat

20 Juli 2020   14:10 Diperbarui: 20 Juli 2020   14:10 117
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi, Tak Ada Kaitan dengan Fiksi Ini (Dok.Pribadi)

"Braakk..." Restu membanting tasnya yang berat itu ke meja perpustakaan yang hening, waktu menunjukkan pukul 17.45 menjelang magrib. Ah... mungkin tak cocok tas punggung lusuh dengan bunyi berbagai gemerincing carabiner dan ascender  yang terletak di bagian zipper carrier tersebut. Persis anak anak SD meletakkan gantungan kunci aneka rupa. Jika restu berjalan dengan lari-lari kecil menapaki tangga, suara berisik itu semakin terdengar.

Jadi, tanpa membanting carrier lusuh itu, Amaria sudah tahu ia kahadiran Restu. Sama seperti Restu mengatakan ia dapat mendengar gemerincing gelang kaki perak yang dipakai di kaki kanan Amaria. Padahal, lonceng kecil itu sangat kecil dan berisi pasir perak yang sangat kecil  pula. Bunyinya pun sangat halus meski kaki Amaria menghentakkan kakinya. 

Seringkali pertengkaran mereka terpicu hanya karena Amaria ngotot jika suara gemerincing gelang kakinya tak akan terdengar siapapun bahkan oleh dirinya sendiri yang memakai. Tetapi Restu bersikukuh bahwa  dalam jarak puluhan meter pun ia mampu mendengarnya.

"Aku pulang" ucap Restu saat berhadapan di hadapan Amaria. Amaria kesal mendengus, konsentrasinya buyar. Mindmap yang telah terusun di hadapanya pun sepertinya tak membantu ia memahami artikel yang akan dia buat.

Jikapun buku-buku adat selalu bicara mengenai tari-tarian, perangkat busana pengantin, kuliner atau bahkan tata cara upacara kelahiran, perkawinan bahkan kematian. Semua diangkat dan diulas dengan nilai-nilai luhur filosofisnya. Bagaimana nilai-nilai yuridis living law sama sekali sulit ditemukan di buku-buku yang berada di hadapan Amaria.

 "Kok kamu masih hidup sih" dengus Amaria.

"Mar, aku jam enam pulang nih"teriak Pak Pur, salah satu pustakawan yang bertugas sendirian sore itu. Rekan-rekannya sudah pulang sejak pukul empat sore tadi. Konyol, kampus yang jam pelajarannnya  sore hingga malam hari, layanan administrasi dan perpustakaannya hanya buka antara pukul 09.00-15.00, persis seperti layanan perbankan. Bahkan, terkadang persis seperti pelayanan publik, jam ishomanya lebih panjang dari jam pelayanan.

"Bentar Pak, ini mau pinjem buku ini"teriak Amaria setengah berlari yang diikuti oleh Restu.

"Abis naik gunung mana lagi Res?', tanya Pak Pur senyum-senyum ke Restu. "Res, sibuk terus dengan gunung. Amaria sudah pacaran aja sama Haikal"kali ini PAk Pur tidak dapat menahan tertawanya.

Tetap dengan gaya cueknya, Restu menatap Amaria. 

Mereka berdua menyusuri lorong kampus yang sepi.  Karena memang masih libur akhir semester. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun