Puisi: Pagar Laut 1
Oleh Karnita
Lekas terharu, di kaki ombak yang tenggelam,
keadilan seolah hanya embusan angin
yang tak sampai ke wajah nelayan,
di antara jaring yang terkoyak,
di antara langit yang diam,
laut berbisik dalam sunyi yang tajam.
Ada bisik yang terpendam dalam pasir,
ekosistem mematung, mati dalam diamnya.
Pemerintah, dengan pena dan suara yang tak bersuara,
menggambar garis di atas tanah yang luntur---
sementara nelayan menggenggam harapan
yang tercabik-cabik di antara ombak ketidakpastian.
Ekonomi terjerat dalam hitungan angka,
dan laut, yang dulu memberi, kini hanya kembali
dengan sepi. Bisnis merayu dengan janji,
seperti angin yang mengusir buih dari bibir pantai,
meninggalkan yang rapuh dan terlupakan,
di mana kita berdiri, tanpa tanah di bawah kaki.
Pebisnis, dengan mata yang melihat dengan harga,
menyentuh laut hanya untuk kepentingan sendiri---
lalu mereka bilang, "Laut ini milik kita semua,"
seperti matahari yang menganggap dirinya
punya hak atas semua warna langit,
sementara yang kecil menghilang di balik bayang-bayang.
Pagar laut, terbuat dari janji yang rapuh,
terlalu banyak celah untuk ditumbuk waktu.
Karang menghilang dalam arus deras uang,
ke mana air yang dulu mengalirkan hidup?
Kita telah menciptakan jurang di antara kami,
seperti pasir yang tak bisa dipegang erat.
Tapi apakah laut akan diam untuk selamanya?
Akankah kami hanya menjadi bayang-bayang
di balik sorot lampu yang kian pudar?
Mungkin, hanya ketika kita menenggelamkan
kepentingan pribadi, akan muncul kembali
pagar laut yang melindungi---tanpa harus menenggelamkan.
Batujajar, 26 Januari 2025