Keempat, profit-taking, yaitu ketika masyarakat memprediksikan kapan gelembung akan pecah. Tentu hal ini tidaklah mudah. Namun di tahap ini, investor harus peka dalam menangkap sinyal tersebut.Â
Para investor sudah harus bersiap mengambil momen untuk menjual aset investasinya dan mengambil keuntungan apabila gelembung hampir pecah.Â
Terakhir, tahap panic. Ketika gelembung pecah, harga aset akan terjun bebas dalam kurun waktu yang singkat. Hal ini akan menggemparkan para investor sehingga mereka mulai berlomba-lomba untuk mencairkan asetnya sebelum harga aset jauh menukik turun.Â
Kondisi Startup Indonesia
Berdasarkan teori sebelumnya, kita dapat menganalisis bahwa kondisi startup di Indonesia telah masuk ke tahap euphoria. Menurut laporan Startup Ranking, selama lima tahun kebelakang jumlah startup di Indonesia tercatat telah bertambah hingga 50%.Â
Angka ini berhasil membuat Indonesia menduduki peringkat kelima dengan startup terbanyak di dunia di mana tujuh di antaranya sudah berhasil masuk kategori unicorn, bahkan decacorn. Â
Prestasi tersebut telah berhasil membangun citra startup di mata publik sehingga makin kesini startup seringkali mendapatkan perhatian khusus baik dari masyarakat, investor, maupun pemerintah.Â
Menurut CEO Mandiri Capital, Eddi Danusaputro, dari kacamata investor, dalam beberapa tahun terakhir valuasi startup Indonesia dinilai tinggi dan cenderung berlebihan sehingga memang merupakan kondisi yang rawan memicu terjadinya bubble burst.Â
Walaupun begitu, beberapa pendapat lain seperti yang disampaikan Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan bahwa sebenarnya masalah PHK saat ini hanyalah sebuah kebocoran atau letupan yang tidak terlalu besar dan masih dalam batas wajar.
Perusahaan rintisan dengan profit yang belum stabil tentunya masih perlu menggunakan jurus "bakar uang" untuk terus mengembangkan sayapnya. Keberjalanan strategi ini tentu saja akan sangat bergantung pada kesediaan pendanaan yang diberikan oleh investor.Â