Aku terjebak di belukar perdebatan, tak mampu mengenali kebaikan dan keburukan, hitam dan putih saling membelit hati nurani. Atau jiwaku telah mati, sekian lama tenggelam dalam badai perdebatan tiada bertepi. Antara nyata dan tiada, antara kebenaran dan angkara murka, semua memenuhi ruang hati. meracuni nurani yang mulai limbung di hempas ilusi
diksi-diksi indah memabukan hati, slogan-slogan perjuangan memenuhi angkasa jiwa. setiap yang berkata-kata merasa paling suci, setiap yang menyaru sebagai pemimpin merasa paling peduli. Setelah itu menghianati, setelah itu membiarkan kesucian dan kenistaan tak berbatas lagi. Mati peradaban, hancur lebur rasa kemanusiaan
Terjebak selamanya dalam gelap yang tak bercela, fitnah dan hina menguasai panggung sandiwara. Kata-kata di olah dan di nampakan dalam wujud yang berbeda, arti dan makna di reduksi sesuai tujuan dan keuntungan. Demi apa? siapa peduli lagi dengan tujuan hakiki, siapa lagi akan bertanya ketika jawaban telah di persiapkan di laci mimpi
Energi habis hanya untuk memproduksi benci, kata-kata musnah di ganti prasangka tak berwujud lagi. Merasa kenyang setelah memancung saudara sendiri, merasa kaya setelah menghisap habis darah sesama. Menemukan cahaya adalah hal luar biasa, mengusir dan membunuh fitnah adalah perjuangan yang sesungguhnya.
Siapa peduli. bahkan gelap itu telah di anggap cahaya, tanpa bayangan tanpa sinar adalah kenyataan yang tak lagi di risaukan. Untuk apa? siapa akan sudi memberi jawaban
Bagan batu, hari ini.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI