Hampir remuk sebatang raga di amuk badai, compang-camping rasa jiwa terpelanting tersapu perangai, berjalan terseok-seok di atas pecahan tebing, menatap sebentar terpejam pandangan hitam mengiringi
Pada titik awal penciptaan, pada permulaan kisah di tuliskan, jiwa-jiwa putih bak melayang ringan, tanpa dosa tanpa cela yang sanggup menjatuhkan, terbang mengelilingi takdir yang di hadirkan, patuh akan ketetapan sebagai kebenaran
Kini badai sering menjumpai, memporak-porandakan bangunan hati yang baru di perbaiki, patah-patah pemahaman, berkeping-keping kejernihan, luluh lantak tiang penyanggah kehidupan
Jika melati adalah suci, badai berkecamuk memenuhi ruang mimpi, bila badai menjadi pertanda hidup dan mati, mungkin melati telah layu sedari dini
Bagan batu 29 oktober 2019
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI