Sore itu, aku berjalan menyusuri jalanan desa yang sepi. Aku yang sedang libur kuliah memutuskan untuk berlibur selama beberapa pekan di desa kakek. semasa kecil hinggah remaja aku sudah beberapa kali ke desa ini bersama orang tuaku, sehingga masih mengenal beberapa penduduk desa yang menyapaku saat aku kembali ke tempat ini.Â
nampaknya keadaan desa sudah agak berubah, beberapa rumah tampak sudah lebih modern dari rumah-rumah desa pada umumnya yang masih terlihat kuno. di ujung kampung terlihat sebuah rumah yang letaknya agak jauh dari perumahan warga, rumah itu tampak megah berlantai dua yang terlihat kokoh di antara pepohonan yang rimbun.
Ketika aku melewati rumah itu tampak tidak ada yang aneh namun rumah itu kelihatan sangat sepi seperti tidak ada pemiliknya.
Setelah puas jalan-jalan berkeliling desa, aku pun memutuskan untuk segera pulang karena sebentar lagi matahari akan terbenam.
Sesampainya di rumah, aku pun menjumpai kakek yang sedang merokok di teras rumah.
Aku pun bertanya perihal rumah mewah di ujung kampung yang tampak sepi.
"Kek, rumah di ujung kampung itu punya siapa"?
"Oh, itu rumah milik pengusaha kaya dari kota. namanya pak Fahmi" jelas kakek.
"Pantes rumahnya megah kayak bangunan-bangunan di perkotaan, tapi kok rumah itu sepi Kek?"
"Pak Fahmi kan kerjanya di kota, yang jagain rumahnya warga di sini. namanya Pak Adi" jelas Kakek.
"Yaudah kek, aku masuk dulu mau mandi"Â
Aku pun bergegas mandi dan lanjut makan malam, setelah itu aku ke kamarku dan hanyut dengan gadget-ku. namun bayangan rumah pak Fahmi masih terngiang-ngiang di pikiranku.Â
"Seandainya aku punya rumah gede kayak gitu di desa, pasti aku ga khawatir lagi sama keadaan kakek ketika aku di kota" batinku.
Keesokan harinya, kakek mengajakku ke ladangnya di hutan pinggiran desa. aku yang bersemangat segera membantu menyiapkan perkakas yang dibutuhkan untuk segera di bawah ke ladang, kami pun berjalan menyusuri jalanan desa sambil sesekali menyapa beberapa penduduk yang kebetulan sedang lewat di situ. Sesampainya di ujung desa, aku kembali takjub melihat rumah Pak Fahmi dari kejauhan dan ketika semakin dekat dengan rumah itu sepintas aku melihat seorang wanita di balik jendela lantai dua rumah itu. wajah wanita itu tampak pucat melihat ke arah aku dan kakek, aku pun memalingkan wajahku dan berjalan cepat mendahului kakek.Â
"Siapa wanita itu yah" batinku penasaran.
Sorenya sepulang dari ladang, aku kembali melihat ke arah jendela di lantai dua rumah pak Fahmi namun wanita itu tidak terlihat lagi. Aku yang masih penasaran bertekad akan mencari informasi tentang wanita itu.
Keesokan harinya, aku yang gabut pun mengajak beberapa teman lamaku di desa untuk pergi berburu di hutan. aku pun menuju rumah teman lamaku, Juan. Juan yang sedang asik bermain game online itupun menyetujuinya dan kami pun mengumpulkan beberapa teman untuk pergi berburu bersama. Di sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang dan bernostalgia tentang pertemanan kami di masa remaja hinggah tak terasa sudah sampai di ujung kampung. aku yang masih penasaran dengan wanita di rumah pak Fahmi pun mengarahkan pandanganku ke arah jendela di lantai dua rumah itu dan berapa terkejutnya wanita itu sedang menatapku sambil tersenyum, aku pun balas tersenyum dan melambaikan tangan yang sontak membuat teman-temanku keheranan.Â
Setelah cukup lama berburu, kami pun memutuskan pulang dengan membawa hewan hasil buruan yang berubah 3 ekor babi hutan. hari sudah sore ketika kami sampai di desa, ketika kami melewati rumah pak Fahmi aku pun mengarahkan pandanganku lagi ke arah jendela namun wanita itu tidak ada di sana.
Kami pun memutuskan untuk membagi hasil buruan dan karena aku tidak menetap lama di desa, aku pun mendapatkan seekor babi hutan sedangkan dua lainnya mereka akan menyembeli dan akan membaginya kepada masing-masing orang.
Keesokan sorenya, aku yang masih penasaran dengan wanita di rumah pak Fahmi pun memutuskan untuk pergi ke sana. sesampainya di sana, aku disambut oleh pak Adi yang menjaga rumah itu. Setelah memperkenalkan diri pada Pak Adi, aku pun dipersilahkan oleh pak Adi untuk masuk ke dalam dan aku pun menunggu pak Adi di ruang tamu rumah itu sambil terkagum-kagum memandang interior rumah itu yang tampak mewah. Pak Adi pun muncul dengan senampan kopi dan beberapa cemilan, skami pun berbincang-bincang mengenai desa dan pak Fahmi yang ternyata teman akrab pak Adi ketika dulu pak Fahmi melakukan KKN di desa.
Setelah puas berbincang-bincang, aku pun pamit untuk pulang karena jam dinding di rumah itu sudah menunjukan pukul 7 malam.
Sebelum pulang aku melihat ke sekeliling dalam rumah itu namun nampaknya sepi, sepertinya pak Adi hanya sendirian di rumah itu. Aku pun memutuskan berjalan keluar dari rumah itu dan ketika sudah di depan rumah aku melihat ke arah jendela lantai dua rumah itu yang tampak remang-remang itu namun tidak ada seorang pun di sana. aku yang semakin penasaran dengan wanita tempo hari itu pun berjalan cepat menyusuri jalanan desa yang tampak mencekam di malam hari.
Keesokan paginya, aku pun mengunjungi rumah Juan untuk sekedar berbincang dengan teman kecilku itu. sesampainya di sana, Ibu Ita yang sedang menyapu halaman pun menyambutku dan mempersilahkan ku masuk ke dalam sambil meneriaki Juan kalau aku sedang mencarinya. aku pun menuju kamar Juan sambil memandang seisi rumah yang masih tampak sama saat dulu terakhir aku ke rumah ini. Juan yang sedang merapikan kamarnya pun mempersilahkan aku masuk dan aku pun duduk di sudut kamarnya yang tampak sedikit berbeda dari sebelumnya, dinding kamarnya yang dulunya polos sekarang sudah banyak poster-poster sepak bola dan beberapa poster penyanyi.Â
Kami pun berbincang-bincang cukup lama sebelum aku kembali mengingat wanita di rumah pak Fahmi.Â
Ju, kau tahu rumah megah di ujung kampung itu kan? tanya kuÂ
"Oh, itu rumahnya Pak Fahmi. Aku dulu sering kesana mengantarkan makan bapakku ketika pengerjaan rumahnya karena bapakku juga yang mengerjakan rumah itu" jelasnya.
"Rumah itu ada penghuninya ga sihh?"
"Ada, pak Adi yang jagain rumah itu" jawabnya.
"Pak Adi punya anak?" Tanyaku lagi.
"Setahuku sihh anak istri pak Adi tinggalnya di desa sebelah, di desa istrinya tapi mereka berkunjung ke sini sebulan sekali" jawabnya.
"Oh gitu, ku kira pak Adi tinggal bersama anak istrinya di rumah itu"Â
"Lah terus wanita yang ku lihat beberapa kali itu siapa"? batinku.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, tak terasa sudah pukul 1 siang. aku yang hendak pulang pun dicegat Bu Ita dan menyuruhku untuk makan siang bersama sebelum pulang.
aku pun mengiyakannya dan setelah makan siang aku pun pamit dan berjalan pulang ke rumah kakek.
Hari terus berlalu, tak terasa sudah hampir sebulan aku di desa kakek. aku pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah teman-teman masa kecilku satu persatu karena besok aku akan pulang ke kota. setelah berkeliling desa, tersisa rumah temanku yang bernama Brury yang rumahnya terletak di jalan ujung desa. rumahnya tak jauh dari rumah pak Fahmi yang agak menjorok ke dalam dari jalanan desa.
Setelah puas bercengkrama dengan Brury, aku pun pamit dan meninggalkan rumahnya.
Ketika aku keluar dari pekarangan rumahnya itu dan hendak berjalan pulang, pak Adi yang lewat dengan sepeda motornya pun menghentikanku. Ia pun bertanya kepadaku perihal kabar jika aku akan kembali ke kota esok harinya, aku pun membenarkan kabar tersebut. aku yang teringat dengan wanita di rumah pak Fahmi pun iseng bertanya sambil menggoda pak Adi.
"Om, cewek siapa tuh yang di rumah pak Fahmi?"
"Cewek yang mana?" Jawab pak Adi terkejut.
"Itu tuh, yang biasanya duduk di jendela lantai dua" tambahku.
"Jangan bercanda kau, Om kan tinggal sendiri sedangkan anak istri Om di desa sebelah. Lagian lantai dua kan kosong, Om tinggal di lantai satu" jelas pak Adi.
Aku yang mendengar penjelasan pak Adi pun seketika merinding sambil melihat ke arah rumah pak Fahmi yang suasananya nampak mencekam seketika itu. Aku pun pamit pada pak Adi dan bergegas buru-buru pulang ke rumah.Â
Malam harinya, sebelum tidur aku pun mengemas barang-barangku untuk pulang keesokan harinya. Aku pun menghubungi orang tuaku untuk memesan taksi agar menjemputku besok siang, tak lama setelah itu aku pun tertidur.Â
Dalam tidurku, tiba-tiba Aku mendengar bisikan-bisikan lembut di telingaku
"Jika kau ingin tahu tentangku, pandanglah selagi siang hari"Â
Bisikan-bisikan kalimat itu terus berulang di telingaku hingga aku tersentak bangun dari tidurku, aku pun melihat ke sekelilingku namun tak ada siapapun.
"Yaelah cuma mimpi doang" umpatku kesal.
Aku pun melihat jam di layar gadget-ku yang menunjukan pukul 7 pagi, aku pun segera membasuh wajahku dan mencari keberadaan kakek. aku pun menghampiri kakek yang sedang ngopi di teras, aku pun pamit padanya karena akan pulang ke kota siang hari itu.
Setelah sarapan, aku pun duduk termenung di kamarku sambil memikirkan mimpi semalam.
"Jika kau ingin tahu tentangku, pandanglah selagi siang hari. maksudnya apa sihh" batinku penasaran.
Aku pun segera mandi karena sebentar lagi taksi yang menjemputku akan segera tiba. setelah selesai mandi, aku pun berkemas dan memeriksa kembali barang-barangku. setelah semuanya beres, aku pun berbincang-bincang sejenak dengan kakek di teras rumah sambil menunggu taksi yang akan segera tiba.
Tepat pukul 12:10 taksi yang menjemputku telah tiba, aku pun berpamitan dengan kakek dan segera menaiki taksi. Taksi mulai bergerak meninggalkan rumah kakek sambil diringi lambaian kakek dan beberapa tetangga yang melihatku pergi.Â
setelah hampir sampai di ujung desa, aku mengarahkan pandanganku ke rumah pak Fahmi dan seketika aku tercengang ketika melihat dibalik jendela lantai dua rumah itu.
Seorang wanita dengan wajah yang hancur sebelah menatapnya sambil tersenyum tipis ke arahku. aku pun cepat-cepat mengalihkan pandanganku dan menyuruh sopir taksi untuk melajukan mobil dengan cepat.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI