Pada kesempatan berbeda, sewaktu jadi juurnalis di Koridor saya pernah mewawancarai  Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Wisnu Nurcahyo, dan tim mengembangkan strategi untuk menjaga dan menyelamatkan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dari ancaman kepunahan. Upaya konservasi dilakukan bersama dengan sejumlah mitra.
Gajah itu punya habitat. Akhir-akhir ini habitat terganggu oleh aktivitas manusia. Padahal gajah punya wilayah untuk mereka mencari makan, mencari minum, mencari tempat mandi.
"Insting itu bertahun-tahun dimiliki gajah. Kalau nggak diganggu, gajah itu baik-baik saja. Dalam hal ini masyarakatlah yang mengganggu habitat gajah," ujar Wisnu kata Koridor berapa waktu lalu.
Wisnu menuturkan bahwa ancaman itu justru datang dari luar. Hewan ternak yang masuk hutan menularkan penyakit pada gajah dan juga ada manusia. Ini juga menjadi ancaman bagi gajah terutama yang masih muda.
"Persoalan lain ialah penyempitan habitat yang membuat gajah kawin sedarah. Misalnya, ibu gajah kawin dengan anaknya atau sebaliknya anak gajah kawin dengan bapaknya, yang membuat terjadinya abortus dan penurunan kualitas kelahiran gajah," paparnya.
Situs Wildlifesos menuturkan migrasi gajah merupakan respon adaptif terhadap musim, ketersediaan makanan dan habitat.
Hewan berkulit tebal ini bergantung pada isyarat lingkungan, seperti curah hujan atau kekeringan, untuk memulai perjalanan migrasi mereka menuju iklim yang lebih sesuai.
Selain itu, migrasi juga bervariasi tergantung jumlah kawanan gajah -- kelompok yang lebih besar cenderung bermigrasi lebih lama dibandingkan kelompok yang lebih kecil.
Migrasi gajah Asia terpanjang yang tercatat di Tiongkok yang disebutkan di atas disebabkan oleh fakta bahwa daerah asalnya telah mengalami periode kekeringan berkepanjangan dan akhirnya kehilangan cukup makanan.
Irvan Sjafari
Sumber Foto: Â Wildlifesos. https://wildlifesos.org/