Pada Kamis, 15 Maret 1962 ruang konferensi pers SKODAM VI Siliwangi  penuh sesak tidak saja wartawan dari Bandung, tetapi juga wartawan yang datang dari Jakarta.  Sebetulnya konferensi pers yang digelar pihak militer adalah hal yang biasa dalam situasi menghadapi Pembebasan Irian Barat.
Namun kali ini yang berbicara bukan Panglima Daerah Militer Siliwangi Ibrahim Adjie atau Kepala penerangannya, melainkan  beberapa pria bersahaja perdesaan  berlogat Sunda. Sekalipun mereka didampingi Kepala Pendam Letkol M Jamil.Â
Seorang di antara para pembicara bernama Ateng Djaelani Setiawaan. Â Tidak ada wartawan yang menganggap pria itu narasumber orang biasa, setelah diperkanalkan sebagai Panglima II KW APNII, alias salah satu panglima perang dari Kartosuwiryo.
Pria berusia 39 tahun ini baru saja kembali ke pangkuan ibu pertiwi lima hari yang lalu di Ciherang, Gunung Kendeng, Cianjur Selatan. Â Dua orang lainnya juga tak kalah pentingnya, Â yaitu perwira TII lainnya bekas Panglima II AKW 7 H Zainal Abidin, Danu (Danu Mohammad Hasan) dan OZ Mansyur.
"Politik Pak Imam telah gagal. Rakyat tidak lagi di belakangnya. Gerakan Pak Imam sedang menghadapi kehancuran," cetusnya dengan getir, seraya menyitir pepatah Latin  vox populi vox dei.
Ateng mengungkapkan, sejak  Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor449/1961 tentang Pemberian Amnesti dan Abolisi membuat kepanikan di antara anggota gerombolan Kastosuwiryo.
"Pak Imam kemudian mengeluarkan perintah perang semesta sebagai reaksi dikeluarkannya kebijakan amnesti dan abolisi untuk mengatasi keadaan yang semakin kecau di antara kelompoknya yang berada di hutan-hutan," papar Ateng.
 Operasi pagar betis telah berhasil memutuskan hubungan komunikasi antar satu kelompok dengan kelompok dalam gerombolan Kastosuwiryo.  Bahkan suplai makanan pun terputus. "Kami bukanlah malaikat," cetus Ateng.
Sejak dilakukan operasi pagar betis di Gunung Galungung dan Gunung Halu, Kastosuwiryo selalu dikawal seringkali terpisah dari pengawalnya. Akhir Oktober 1961, Sang Imam pindah ke Gunung Guntur dan selalu dikawal 7 pucuk bren. Kastosuwiryo tidak pernah dikawal secara dekat. Kastosuwiryo sehari-hari bersemedi.
Menurut Ateng, Kastosuwiryo tinggal bersama isteri dan tujuh anaknya. Dua anaknya yang sulung, semuanya wanita telah meninggal. Â Dia menulis buku setebal 250 halaman tik, menghabiskan 200 rim kertas. Buku itu berisi riwayat asal muasal Kartosuwiryo tentang nenek moyangnya dari keturunan Aria Jipang.Â
"Karto mendapat wahyu cakaraningat. Dia menyebut dirinya Ratu Adil sebenarnya. Â Dia menanti senjata pamungkas dari Tuhan," tutur Ateng.
Sejak 1960, gerakan Kartosuwiryo menyurut. Pada tahun itu 1.035 anggota gerombolan tewas, 213 ditawan dan 281 menyerah. Â Senjata yang dirampas sebanyak 5 bren, sebuah mortir, 102 sten, 10 granat, dan 182 senapan.
Pada 1961 sebanyak 932 anggotanya tewas, 239 ditawan dan 165 menyerah. Â Senjata yang berhasil dirampas oleh tentara 26 bren 5 mortir, 101 sten, 166 garrand, 219 senapan dan 77 pistol. Dengan demikian pemberontak DI/TII kehilangan banyak senjata. Â Kelompok pemberontak tidak lagi ofensif tetapi lebih banyak defensif.
Kontak senjata yang agak menonjol terjadi pada 15 Maret 1962 menjelang Mahgrib di Desa Cigadog, Garut ketika dua orang anggota gerombolan tertembak mati oleh patroli OPR. Â Tembak menembak terjadi selama 30 meit. Â Seorang perempuan bernama Djumirah, 27 tahun dibunuh gerombolan karena menolak ikut ke hutan.
Sementara pada 2,5 bulan pertama 1962 sebanyak 68 anggota gerombolan berhasil ditewaskan dan 20 lainnya menyerah, enam orang tertawan. Sebanyak 104 bekas anak buah Kartosuwiryo dikembalikan ke masyarakat. Â Sebanyak 245 orang lagi, 109 laki-laki, 86 perempuan dan 43 anak-anak masih ditampung pihak Kodam Siliwangi. Â
Pada 6 Mei 1962 Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie  menggelar konferensi pers menyebutkan, untuk mengakhiri Pemberontakan Kartosuwiryo, pihaknya menggelar Operasi Baratayudha. Â
Tujuan operasi ini bukan saja menghancurkan fisik gerombolan tetapi justru untuk menciptakan suasana damai dan mewujudkan ketenteraman lahir dan batin guna mencapai cita-cita pribadi setiap anggota masyarakat.
"Operasi memang merupakan penyelesaian akhir dengan menggunakan segala cara dan kemampuan. Tetapi kami tidak melupakan bahwa yang dikejar-kejar itu juga merupakan warga negara Indonesia dan bukan musuh berbangsa asing. Warga negara kita yang disesatkan oleh keadaan eknomi, emosi dan phobi," ujar Ibrahim.
Ibrahim Adjie mengatakan, tindakan mereka memang untuk menciptakan negara Islam, tetapi diliht cara-cara dan tindakannya malahan bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Operasi Baratayudha yang digelar sejak 1 April terasa hasilnya pada pertengahan Mei 1962 di mana 133 anggota gerombolan Kartosuwiryo berhasil ditewaskan, lebih dari tiga ratus menyerah dan 91 orang tertawan termasuk 100 pucuk senjata dari berbagai jenis.
Berakhirnya pemberontakan PRRI dan Permesta, membuat TNI bisa memusatkan perhatiannya kepada DI/TII Kastosuwiryo. Â Gerakan Pagar Betis memang jadi strategi yang jitu memutuskan gerakan gerombolan ini dari satu titik ke titik yang lain.
Menjelang akhir Mei 1962 seorang berpangkat mayor  bernama Ule Sudja'I telah turun melapor ke pos TNI di daerah Leles.  Dilaporkan dalam berapa hari 47 orang telah turun gunung. Disusul turunnya Adah Djaelani, seorang panglima gerombolan Kartosuwiryo menyerah pada 29 Mei 1962.
Menyerahnya Adah Djaelani menyebabkan pihak Siliwangi bertambah yakin. Wakil Asisten II Kodam VI Siliwangi Letkol Supomo dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, memperkirakan akhir September 1962 pemberontakan Kartosuwiryo akan tamat riwayatnya.
Realitasnya memang gerombolan itu  hancur lebih cepat. Pikiran Rakjat edisi 5 Juni 1962 memasang headline "S.M Kartosuwiryo Sudah Berada di Tangan Siliwangi". Â
Harian itu menyebutkan, pemimpin gerombolan bersenjata itu sejak Senin 4 Juni 1962 bertepatan dengan 1 Muharram 1382 H jam 12.00 berada di tangan pasukan Siliwangi hidup-hidup.
Disebutkan, sekitar 20 pengikutnya ikut menyerah, termasuk seorang perwiranya Ateng kurnia. Â Ikut pula isterinya.
Kapendam Kodam Siliwangi Letkol M Nawawi Latif  dalam pembicaraan singkat dengan wartawan Pikiran Rakjat tengah malam, mengatakan yang menangkap adalah pasukan Bataliyon 328 Kujang II di Kecamatan Paseh, Distrik Cisalengka.
Esok harinya Pikiran Rakjat edisi 6 Juni 1962 menulis headline : "Terima Kasih Siliwangi kepada Segenap Rakjat". Â Kartosuwiryo digambarkan sedang beristirahat di tempat tidur dalam pos Kodam Siliwangi. Â
Ibrahim Adjie mengatakan, Â kembalinya SM kartosuwiryo beserta rombongannya belum berarti keamanan sudah pulih. Â Anak buah Kartosuwiryo masih ada yang belum kembali. Â Sekalipun Ateng Kurnia memberi perintah kepada anak buahnya untuk melapor, namun hal itu memerlukan waktu.
"Saya meminta saudara-saudara dari pers untuk datang ke Pos Kodam Siliwnagi untuk mebenarkan berita gembira ini. Saya juga meminta perentaraan suadara-saudara untuk menyampaikan kepada rakyat rasa terima kasih dari saya pribadi dan seluruh anggota Kodam Siliwangi atas segala bantuan moril yang diberikan kepada Kodam Siliwangi, sehingga menghasilkan kembalinya saudara SM Kartosuwiryo dalam keadaan sehat," ujar Ibrahim dengan rendah hati.
Selang tiga hari setelah Kartosuwiryo berada di tangan Siliwangi sebanyak 206 anak buahnya segera mengikuti turun. Â Rakyat Kampung Sukamanah di Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung disebutkan, merayakan peristiwa itu dengan suka cita dengan mengadakan kendurian pada 8 Juni 1962. Hadir dalam perayaan itu Bupati Bandung Mayor Memed Adiwilaga.
Gubernur Jawa Barat Mashudi dalam sebuah acara di Bandung  pada Senin 11 Juni 1962 mengatakan, dengan menyerahnya Kartosuwiryo Jawa Barat memasuki fase baru. Tiga belas tahun pemberontakan yang sangat melelahkan menyita waktu dan potensi yang harusnya digunakan untuk membangun.
Â
Irvan SjafariÂ
Sumber Primer:Â Pikiran Rakjat, 16 Maret 1962, 23 Maret 1962, 7 Mei 1962, 22 Mei 1962, 30 Mei 1962, 5 Juni 1962, 6 Juni 1962, 7 Juni 1962, 9 Juni 1962, 12 Juni 1962.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI