Ketiga, pemberdayaan masyarakat. Masyarakat perlu diberdayakan untuk ikut aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungannya.
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam memberantas premanisme. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, maka upaya menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif akan menjadi lebih efektif.
Keempat, Penyediaan lapangan kerja. Kurangnya lapangan kerja seringkali menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang terlibat dalam tindakan kriminal. Oleh karena itu, perlu diciptakan lapangan kerja yang layak bagi masyarakat.
Penyediaan lapangan kerja yang layak merupakan salah satu upaya yang sangat penting dalam memberantas tindakan kriminal seperti premanisme.
Dengan memberikan masyarakat kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, maka kita dapat mengurangi angka kriminalitas dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.
Kelima, pembinaan terhadap pelaku. Pelaku premanisme perlu diberikan pembinaan agar mereka dapat kembali ke masyarakat dan tidak mengulangi perbuatannya.
Pembinaan terhadap pelaku premanisme merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pemberantasan premanisme. Dengan memberikan pembinaan yang tepat, maka kita tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga memberikan mereka kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Kesimpulan, kasus pemalakan di Pameungpeuk adalah pengingat bagi kita semua bahwa masalah premanisme masih menjadi tantangan yang serius. Untuk menciptakan masyarakat yang aman dan damai, diperlukan kerja sama dari semua pihak. Kita harus berani melawan segala bentuk kekerasan dan mendukung upaya pemerintah dalam memberantas premanisme.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H