Sebelum Pandemi Covid-19, sektor perbankan termasuk salah satu sektor yang paling diminati oleh para investor saham, terlebih lagi saham-saham bank plat merah yang masuk kategori saham big cap yaitu saham dengan market cap yang besar. Selain memiliki tren pertumbuhan yang positif, saham-saham ini juga terkenal rajin membagikan deviden.Â
Saham-saham seperti BBRI dan BMRI pada dasarnya adalah saham-saham favorite berinvestasi jangka panjang, juga untuk trading jangka pendek. Bagaimana dampak Pandemi Covid-19 terhadap saham bank plat merah? Pada artikel kali ini kita akan membahas 4 saham bank milik pemerintah pusat.
Saham pertama yang akan kita lihat adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan kode emiten BBRI. BBRI dikenal sebagai saham penggerak IHSG. Pada awal tahun 2020, saham BBRI dibuka pada harga Rp4400 per lot (1 lot setara dengan 100 lembar saham). Pasca pembagian deviden pada tanggal 27 Februari 2020, saham ini terus mengalami fluktuasi seiring perkembangan pandemi Covid-19 di dunia. Pada perdagangan saham tanggal 6 Mei, BBRI ditutup dengan harga Rp2620 per lot. Jika mengaju pada harga pembukaan di awal tahun, BBRI telah turun 1780 poin, atau mengalami penurunan sebesar 40,45%.
Saham kedua adalah saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang melantai di bursa saham dengan kode BMRI. Pada awal tahun 2020, harga saham BMRI dibuka pada harga Rp7675 per lot. Saham BMRI terus menunjukkan tren kenaikan positif hingga mencapai harga tertinggi pada perdagangan saham tanggal 20 Februari 2020 di harga Rp8050.Â
Pada tanggal 28 Februari 2020, BMRI telah membagikan deviden seharga Rp353,342 per lembar saham. Pasca pembagian deviden, saham ini terus turun hingga mencapai harga terendah pada perdagangan saham tanggal 26 Maret 2020 di harga Rp3780 per lot. Setelah tanggal 27 Maret 2020, BMRI terus mengalami fluktuasi hingga pada perdagangan 6 Mei 2020 ditutup di harga Rp4160 per lot. BMRI telah turun 3515 poin sejak awal perdagangan tahun 2020, atau mengalami penurunan sebesar 45,80%.
Ketiga, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dengan kode emiten BBNI. Pada perdagangan saham awal tahun 2020, BBNI dibuka pada harga Rp7875 per lot.Â
Saham BBNI sempat mencapai harga tertinggi Rp7950 pada perdagangan saham tanggal 20 Februari 2020. BBNI juga telah menebar deviden kepada para pemegang saham pada tanggal 2 Maret 2020 senilai Rp206,241 per lembar saham. Pasca pembagian deviden ini, saham BBNI terus mengalami penurunan seiring peningkatan pandemi Covid-19, hingga pada perdagangan saham tanggal 24 Maret 2020 ditutup pada harga terendah Rp3160 per lot.Â
Pada perdagangan saham hari rabu (6/5/2020), BBNI ditutup dengan harga Rp3830 per lot. Jika dihitung sejak harga pembukaan di awal tahun 2020, BBNI mengalami koreksi sebesar minus 4045 poin, atau penurunan sekitar 51,36%.
Saham terakhir yang kita bahas adalah saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kode Emiten BBTN. Tanggal 2 Januari 2020, saham BBTN dibuka pada harga Rp2150 per 100 lembar saham.Â
Harga tertinggi yang pernah dicapai BBTN sepanjang tahun 2020 hanya menyentuh angka Rp2180 yaitu pada perdagangan saham tanggal 15 Januari 2020. BBTN terus mengalami tren negatif hingga hari ini.Â
Pada penutupan perdagangan saham tanggal 6 Mei, BBTN ditutup dengan harga Rp875 per 100 lembar saham. Jika mengaju pada harga pembukaan di awal tahun 2020, BBTN telah terkoreksi minus 1275 poin atau penurunan sebesar 59,30%.