A. Refleksi Diri Guru
Menjadi guru dituntut untuk tampil sempurna di hadapan peserta didik. Sempurna dalam penampilan, dan penyampaian materi pelajaran serta mengajak mereka untuk melakukan pembelajaran yang menyenangkan.
Akan tetapi, di satu sisi, seorang guru terkadang menghadapi permasalahan di luar urusan sekolah. Permasalahan yang berasal dari rumah, bisa terbawa sampai sekolah.
Ketika permasalahan itu terbawa sampai kelas, maka pembelajaran tidak akan efektif. Mengondisikan peserta didik akan sangat kesulitan. Bukan tidak mungkin kalau guru yang bersangkutan akan semakin pusing.Â
Dalam keadaan seperti itu, ada baiknya guru melakukan refleksi diri. Apakah kondisinya itu akan mempengaruhi komunikasi dan pembelajaran dengan peserta didik? Apakah dampak jika guru terbawa pada kondisi yang tidak menyenangkan terhadap proses pembelajaran?Â
Dengan berefleksi guru akan lebih nemahami perasaan, memahami keadaan diri sendiri, meregulasi diri, menyelesaikan masalah dan berpikir jernih serta peka terhadap sekitarnya.
Apabila guru terlalu banyak pikiran, dia tidak akan maksimal dalam menjalankan tugasnya di sekolah. Tentu sangat merugikan peserta didik. Dalam hal ini strategi refleksi guru adalah menyadari situasi yang terjadi dalam dirinya.
Ketika melakukan refleksi diri, perlu diingat bahwa guru tidak sedang menghakimi diri sendiri. Namun refleksi merupakan kegiatan melakukan evaluasi dan memikirkan perilaku dan emosi yang ada pada diri. Strategi ini merupakan strategi membedakan antara pemikiran reflektif dan pemikiran menghakimi.
Jika ternyata dalam berefleksi guru malah menghakimi diri sendiri, maka ada baiknya guru berhenti sejenak dalam merefleksi diri. Kegiatan refleksi ini bisa dilakukan di lain waktu.
Langkah terakhir atau strategi ketiga adalah mencari bantuan. Guru bisa melakukan refleksi diri dengan bantuan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater sebagai orang yang dimintai pertimbangan dalam menjalankan ketugasannya di sekolah.