Lama aku tak menapakkan kaki ke Ndhung Panas, kali atau sungai yang menjadi ciri khas di dusunku. Letaknya di sebelah barat persawahan kampung dan sebelah timur hutan kayu putih.
Setidaknya dua tahun aku tak ke sana. Padahal dulunya aku sering mengajak siswa-siswiku belajar di sana. Ya, melakukan pembelajaran di luar kelas, agar para siswa tidak bosan dengan pembelajaran di dalam kelas.
Tentu saja, aku mengajak para siswa ke Ndhung Panas saat musim kemarau. Di mana air sungai mulai menyusut. Tak pernah aku berani mengajak siswa ke sana kalau musim hujan.Â
Sudah pasti kali itu akan meluap. Bahkan persawahan yang letaknya dekat dengan Ndhung Panas, pasti juga akan kebanjiran. Itu sudah sering kali terjadi.Â
Pernah Bulik Mar yang harus merelakan tanaman padi yang baru ditanam beberapa hari, ternyata harus hanyut, terbawa arus sungai yang meluap sampai sawahnya.
Makanya aku tak pernah mengajak dan malah melarang keras para siswa bermain di sekitar kali jika musim hujan tiba. Takut kalau tiba-tiba ada banjir bandang dan mereka terseret arus banjir.
***
Saat kemarau dan aku melakukan pembelajaran di Ndhung Panas, air di sana masih mengalir meski debit air berkurang. Kini, saat musim kemarau panjang dan cuaca ekstrim, air di sungai hanya mengisi celah-celah batu cekung yang terbentuk karena gerak air. Selebihnya tak terlihat air lagi.Â
Bebatuan hasil sedimentasi terbentuk jelas. Berlapis-lapis dan membentuk batuan yang datar. Batuan datar dan luas itu menjadi pemandangan lumrah. Biasanya batuan ini digunakan untuk bermain anak-anak saat sore hari dan cuaca cerah.Â
Kalau ada warga kampung yang merantau dan kebetulan mudik, pasti akan meluangkan waktu ke Ndhung Panas ini. Mengobati rasa kangen, di mana mereka dulu sering bermain di sana juga.Â