Kalau misal ditanya apa yang aku rindukan di saat lebaran tiba, aku ingin menghapus semua luka yang muncul di hari Idul Fitri. Ada banyak hal yang membuat perang batin yang melibatkan hatiku dan saudara iparku sendiri.
Kesalahpahaman yang menjadi penyebabnya. Berawal dari keinginan iparku untuk meminjam tugas akhir kuliah. Sudah sejak awal mata kuliah itu kutawari soft copy yang dibutuhkan tapi dia lebih memilih hard copy-nya.Â
"Tenang aja, mbak. Ada tukang ngetiknya kok", katanya waktu itu. Ya aku paham, dia baru saja menikah. Jadi mungkin yang dimaksud tukang ngetik ya istrinya sendiri. Â Alhasil dibawanya hard-copy tugas mata kuliah itu. Aku sudah tak berpikir macam-macam. Apalagi di tempat kerja aku diberi tugas tambahan untuk mengurusi aset barang.Â
Namun beberapa minggu kemudian iparku ke rumah. Ternyata dia minta tolong untuk melengkapi proposal tugasnya. Katanya dia bingung merangkai kata. Ya sudah kubantu dia semampuku. "Aku tuh bingung, mbak. Nggak bisa merangkai kata-kata. Trus Sisi saja masuk angin kalau nggak diajak jalan-jalan" curhat iparku.Â
Jleb. Dia sayang Sisi ---istrinya--- tapi mbak ipar disuruh ngerjain tugasnya. Padahal Mbak iparnya ngurusi suami ---masnya sendiri---dan anaknya. Urusan mbak iparnya sudah banyak tapi masih ditambahi kerjaannya.Â
Saat itu aku sudah merasa tak respek lagi pada iparku. Kenapa ada orang minta tolong kok sampai segitunya. Apalagi memang kalau kuperhatikan dia dan istrinya sering jalan- jalan. Kulihat itu di story atau status  WA nya.Â
Aku sendiri hanya memperhatikan dan tidak mengirimkan komentar apapun atas story atau statusnya. Aku malah membuat status atau story tentang aktivitasku di tempat kerjaku. Sekadar melepaskan penat hati dan pikiran.Â
Di saat hati dan pikiran penat, iparku mengirimkan Wapri. Tapi wapri itu tak kubuka, apalagi kubalas. Meski tak kubuka namun sempat kubaca sekilas kalau dia menanyakan format lampiran untuk tugasnya. "Mbak, punya softcopy lampiran apa g?", chatnya.Â
Karena pusing dengan tugas di tempat kerja dan rumah, tak kubalas  Wapri itu. Toh dia bisa ke rumah kapan saja, seperti biasanya. Karena aku tak membalas Waprinya, kurasakan story berikutnya yang ia buat sangat menusuk hati. Aku tak habis pikir, laki -laki kok seperti itu.Â
Terakhir kali dia membuat story yang intinya menyebut kalau aku adalah saudara yang tak pengertian dan tak baik. Aku sedih sekali. Aku sudah berusaha untuk membantu, bahkan judul tugas dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang menjadi dasar penyusunan tugas juga kubuatkan.Â
Aku benar-benar  marah dan menangis. Kuluapkan perasaanku ke suamiku. "Mas, coba mas bilang ke adik mas kalau mau manja jangan ke aku. Aku mbak ipar yang nggak bisa bantu full. Aku tak terima dengan yang ditulis di story-nya". Tak berapa lama, story itu dihapusnya. Jadi suamiku tak tahu persis apa yang dituliskan adiknya dalam menilaiku.Â