Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Guru - Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Guru SDM Branjang (Juli 2005-April 2022), SDN Karanganom II (Mei 2022-sekarang) Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Metaverse Artikel Utama

E-Sport, Masuk Kurikulum di Tingkat Mana Tepatnya?

1 Februari 2019   22:01 Diperbarui: 2 Februari 2019   11:26 391
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kemarin saya sudah menuliskan tentang Kompetisi Piala Presiden E-sport 2019 dari tinjauan edukasi. Dalam tulisan itu saya sebagai pendidik merasa sedikit jengah dengan kompetisi ini. Maklum saya adalah pendidik di lingkup sekolah dasar di mana pada tingkatan tersebut para siswa sedang kami giat-giatkan agar mencintai dunia literasi. 

Literasi bahasa, agama, budaya, kebangsaan, numerik dan sebagainya. Saya melihat dan menyaksikan sendiri sulitnya para siswa untuk mencintai dunia literasi.

Apalagi saya ingat bahwa Bu Sri Mulyani pernah mempertanyakan kualitas guru ketika melihat kenyataan bahwa peringkat pendidikan dinilai tak sebanding dengan gaji dan dana tunjangan profesi yang diterimakan setiap bulan. Padahal kualitas pendidikan ditentukan oleh banyak hal.

Saya sebagai pendidik merasa menjadi tumbal apabila kualitas hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Semua pihak harus bahu membahu untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Apabila pemerintah akan memasukkan e-sport ke dalam kurikulum sepertinya harus benar-benar dipikirkan sisi baik-buruk e-sport bagi anak didik. Bagaimana pun mereka adalah generasi bangsa calon pemimpin yang harus kuat, mandiri, religius, nasionalis, punya integritas.

Mari kita kaji kelebihan E-Sport. Pertama, hadiah yang menggiurkan hanya untuk bermain game. Tentu ini sangat menggiurkan para gamer. Tapi hal inilah yang menjadi kekhawatiran para pendidik. Jangan-jangan nanti para peserta didik ingin menjadi gamer sehingga merasa tidak perlu belajar. 

Kedua, pastinya gamer akan terkenal. Dengan terkenalnya seorang gamer maka seolah memperoleh surga dunia atau uang tanpa harus bersusah payah belajar.

Selanjutnya mari kita lihat sisi negatif dari esport. Pertama, diperlukan kerja yang sangat sangat keras karna mungkin hanya 13 persen player yang bisa menjadi atlit esport dari 100 persen pemain keseluruhan. Kedua, dari segi kesehatan maka fisik harus diperhatikan, karena atlit esports yang bekerja otak bukan fisik, maka dari itu harus diimbangi dengan olahraga. Padahal kita tahu sendiri apabila ada orang yang hobi nge-game pasti lupa waktu, bahkan sekadar untuk makan, minum, ibadah, olahraga. 

Selain itu pehobi game pasti kurang waktu berkumpul dengan keluarga. Ketiga, dilihat dari dana, karena untuk menjadi team yang benar benar diakui, team tersebut harus memiliki sponsor, dan tentu dana yang ditanggung oleh pihak sponsor tidak lah sedikit, namun jika menghasilkan keuntungan tidak sedikit pula, jadi memang ada timbal balik antara dana yang dikeluarkan dan keuntungan yang diperoleh.

Melihat sisi positif dan negatif, apabila pemerintah memang ingin memasukkan e-sport ke kurikulum maka hendaklah jangan pada tingkatan sekolah dasar dan menengah pertama. Mengapa? Kita harus ingat bahwa Indonesia mencanangkan Pendidikan dasar sembilan tahun, bukan enam tahun lagi.

Lebih baik E-sport dimasukkan ke kurikulum sekolah tingkat menengah atas, terutama SMK. Mengapa harus SMK? Di SMK bisa dibuka jurusan E-sport dan di sana para siswa bisa dididik untuk menciptakan E-sport mandiri, bukan hanya memainkan game yang sudah ada. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Metaverse Selengkapnya
Lihat Metaverse Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun