Mohon tunggu...
Johan Wahyudi
Johan Wahyudi Mohon Tunggu... Guru - Guru, Pengajar, Pembelajar, Penulis, Penyunting, dan Penyuka Olahraga

Pernah meraih Juara 1 Nasional Lomba Menulis Buku 2009 Kemdiknas pernah meraih Juara 2 Nasional Lomba Esai Perpustakaan Nasional 2020, mengelola jurnal ilmiah, dan aktif menulis artikel di berbagai media. Dikenal pula sebagai penyunting naskah dan ghost writer. CP WA: 0858-6714-5612 dan Email: jwah1972@gmail.com..

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Pak Mendikbud, Apakah Bapak Menyaksikan Acara Ini?

30 Januari 2012   12:20 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:16 244
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Di media, pemerintah melalui Kemendikbud pernah menjanjikan pendidikan gratis. Pemerintah berusaha memberikan layanan pendidikan kepada anak bangsa agar generasi kita menjadi cerdas. Gaung pun bergema. Sontak rakyat jelata menyambut gembira janji menterinya. Namun, kini mereka - rakyat jelita - dipaksa menelan pil pahit. Tak lain adalah slogan yang tiada dibuktikannya. Ya, slogan pendidikan gratis hanya menjadi sebatas janji manis. Dan itu terkuak nyata melalui tayangan televisi petang ini.

Tak kuasa lagi saya menahan derai air mata petang ini ketika menyaksikan acara Orang Pinggiran yang ditayangkan TV7. Saya benar-benar tak kuasa menahan emosi ketika menyaksikan keluarga miskin dengan segala kekurangannya. Geram dan gigi gemeretak menahan gejolak nurani yang kian mendidih. Entah, kemanakah wahai Bapak Mendikbud tercintaku?

Namanya Pak Imam, seorang suami atas seorang istri dengan tiga anak (satu lelaki dan dua perempuan). Dia mengontrak sdebuah rumah yang teramat sederhana di tengah kampong. Pak Imam adalah pencari kayu bakar ke hutan. Dia mencari nafkah dengan cara itu karena kemiskinan yang menderanya. Dengan bermodalkan sebuah sepeda motor tahun 1977an, sebuah kampak, dan bronjong, Pak Imam berangkat sejak pagi untuk mencari dangkel atau akar kayu jati ke hutan. Akar kayu itu dipecah-pecah hingga menjadi ukuran yang lebih kecil. Lalu, Pak Imam pun mengumpulkan kayu bakar itu dan ditaruhnya ke dalam bronjong tadi. Selanjutnya, Pak Imam membawa pulang kayu bakar itu.

Tidak mudah Pak Imam membawa pulang kayu bakar itu. Dia harus melewati jalanan nan berlumpur. Ketika kondisi hujan, jalanan hamper tak dapat dilalui. Ketika kemarau, jalanan menjadi berdebu. Karena jarak rumahnya cukup jauh, motor Pak Imam kadang mogok. Ketika mogok itulah, nyawanya terancam. Ia berada di tengah hutan sambil menuntun sepeda motornya yang membawa bronjong penuh kayu bakar. Betapa gembiranya jika Pak Imam tiba di rumah dengan selamat. Namun, betapa sedihnya karena kayu bakar itu hanya dihargai tak lebih dari Rp 15.000.

Kemiskinan yang menderanya kian menusuk perasaan. Anak sulungnya putus sekolah usai lulus SMP. Ketiadaan biaya telah memupus cita-cita sang anak meskipun ia berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/ SMK. Anak sulung lelaki itu benar-benar memilukan kondisinya. Di tengah kegembiraan anak sebayanya yang setiap hari berangkat ke sekolah, ia justru berangkat mencari barang rongsokan demi membantu ekonomi keluarganya. Ia tak merasa malu karena memang kemiskinan itu dinikmatinya. Pantang ia putus asa meskipun hatinya merintih menahan sedih.

Nasib baik agaknya dimiliki kedua adik perempuannya. Keduanya masih bisa bersekolah SD meskipun dikekang kondisi yang teramat menyedihkan. Sarapan seadanya karena memang tiada yang dapat dimakannya. Tak lain itu disebabkan biaya pendidikan sebesar Rp 200.000 yang belum terbayarkan. Tentunya orang tuanya begitu sedih dan teramat sulit menghadapi kesulitan ekonomi yang menderanya.

Agar kehidupan dapat berjalan, sang ibu tak malu-malu mencari rongsokan dari rumah ke rumah. Sambil menaiki sepeda onthel-nya, sang ibu berteriak-teriak, "Rongsok! Rongsok! Rongsok!" Sang ibu berharap agar warga berkenan menjual rongsokan kepadanya. Satu-dua warga menjual rongsokan kepadanya. Jika nasib beruntung, sang ibu dapat meraih uang sekitar Rp 15.000. Uang yang cukup dibelikan sekilo beras dengan lauk sekadarnya.

Pak Mendikbud, manakah buktinya bahwa Bapak telah menggratiskan biaya pendidikan? Saya adalah guru yang hidup dan berada di tengah kampong. Saya mengetahui kondisi secara nyata bahwa pendidikan gratis hanyalah menjadi slogan semata. Begitu banyak komponen biaya yang dibebankan sekolah kepada orang tua murid. Namun, pemerintah seakan menutup mata sambil terus meneriakkan yel-yel pendidikan gratis!

Pak Mendikbud, begitu banyak anak putus sekolah karena ketiadaan biaya. Siapa bilang bahwa angka putus sekolah menurun? Sehari-hari, saya mudah menemukan banyak anak seusia sekolah justru menjadi pencari rumput, penggembala kambing, membantu orang tuanya ke sawah, bekerja serabutan, bahkan mengamen. Mana janji Bapak bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara? Mengapa angka putus sekolah justru meningkat seiring meningkatnya anggaran pendidikan?

Pak Mendikbud, sekian banyak berita tersiar tentang kebobrokan dunia pendidikan. Mengapa perubahan ke arah yang positif tak kunjung terjadi? Mengapa korupsi di dunia pendidikan kian menjadi-jadi? Mengapa mental para guru dan pendidik kian menjauh dari status guru profesional? Apakah Bapak akan membiarkan kondisi itu kian berlarut-larut? Jika demikian, saya berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan terjadi degenerasi bangsa ini. Semoga saja tidak, itu harapan kita, tentunya jika Bapak berkehendak melakukan perubahan!

Teriring salam,

Johan Wahyudi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun