Nenekku memang hebat dengan resep tradisional yang sangat sederhana. Yeah of course guys, itu semua adalah the power of kerokan.
Hidup di Perantauan
Berkat kerokan yang diperkenalkan oleh nenekku sehingga setiap kali aku demam, aku langsung meminta mamaku untuk mengerok bagian punggungku. Begitulah awal mulanya kerokanisme di dalam keluargaku.
Setelah lulus SMA aku langsung hijrah untuk melanjutkan kuliah ke Jogja, ceritanya jadi perantau nih guys hehehe. You know lah anak rantau itu harus mandiri dan mengurus segala sesuatunya dengan tangan sendiri. Kegiatanku di Jogja bukan hanya kuliah guys, tapi aku menuntut diriku sendiri untuk produktif dan serba bisa.
Selain kuliah, aku juga aktif di beberapa kegiatan seperti event organizer,Unit Kegiatan Mahasiswa di bidang musik, dan aku juga bekerja partimedi sebuah restoran. Yup hari-hariku sangat padat sehingga jadwal tidur pun berantakan. Belum lagi tugas kuliah yang aku kerjakan sepulang kerja sampai subuh menjelang.
Obat? No Way?
Daya tahan dan kemampuanku sangat di uji, tetapi aku bahagia bisa produktif dan banyak pengalaman yang aku dapatkan selama masa kuliah. Seperti biasa guys karena kurang istirahat dan sering begadang mengerjakan tugas, aku langsung masuk angin. Kejadian masuk angin ini pun mengingatkanku pada nenekku, sehingga aku langsung teringat pada kerokan.

Setelah malam hari kerokan, Alhamdulillah pagi harinya aku langsung bisa melanjutkan aktifitasku kembali yang super padat.
Mengapa Balsem Lang?
Basicly aku memang termasuk orang yang tidak terlalu suka dengan obat. Karena sebelum aku berangkat ke tanah rantau, nenekku berpesan "le kalau nanti di Jogja kamu sakit, Dikit-Dikit Jangan Minum Obat yah le, ingat resep dari nenek hehehe". Ternyata memang benar, aku selalu ingat dengan perkataan nenekku.