Keputusan Pemerintah menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu prioritas dengan menjadikan target 20 juta wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia tahun 2019 sudah tepat.Â
Menurut badan pariwisata dunia (World Tourism Organisation), di mana Indonesia sebagai negara anggota dari seorang turis akan memberikan sekitar ASD 1.200 atau sekitar Rp.15.600.000 kepada negara. Â Dengan demikian kalau target 20 juta tercapai, setidaknya ASD 24 miliar atau sekitar Rp.312 triliun penerimaan negara dapat terwujud, angka yang cukup signifikan.
Itu sebenarnya bukan mustahil terutama jika Malaysia sudah menerima 30 juta wisatawan asing tahun 2016, dan Thailand menerima 34 juta wisatawan manca negara. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah mengembangkan 10 daerah tujuan wisata, termasuk Danau Toba.
Pemerintah pusat sangat bersungguh-sungguh menjadikan Danau Toba menjadi daya tarik wisata Indonesia. Tak tanggung-tanggung Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah berkunjung ke sana tahun 2016 dan tahun 2017. Bandara Silangit pun dijadikan bandara internasional dan penerbangan Garuda Silangit-Singapura setiap hari dibuka mulai Oktober 2017.
Peran Tiga Pilar
Namun kita belajar bahwa untuk membangun suatu negara itu ada tiga pilar yang harus berperan yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Dalam pembangunan Danau Toba kelihatannya baru pemerintah, itupun baru pemerintah pusat, yang berperan aktif, sementara pemerintah daerah setempat, pengusaha, dan masyarakat masih belum tahu harus berbuat apa. Â
Seharusnya dari kalangan pemerintah seperti bupati, kepala dinas, camat dan pemimpin masyarakat seperti para pemimpin agama seperti ephorus dan para pendeta, kiyai, dan lain-lain perlu meninggalkan jubah kebesarannya dan terjun langsung mengajak masyarakat agar upaya menjadikan danau Toba sebagai tujuan wisata internasional bisa membantu memperbaiki kehidupan masyarakat di sana, bukan sebaliknya.
Pelestarian alam dan budaya
Walaupun sektor pariwisata dapat meningkatkan penerimaan negara signifikan, seperti dialami negara maju seperti AS, dan negara-negara Eropa, namun harus tetap dijaga sedini mungkin agar kegiatan wisata itu tidak merusak alam dan budaya.
Untuk itu para pemimpin agama, sosial dan budaya perlu menjamin agar dengan dijadikannya Danau Toba sebagai tujuan wisata, jangan sampai merusak alam dan kehidupan masyarakat yang dikenal menjungjung tinggi nilai-nilai luhur.Â
Jangan sampai kawasan Danau Toba terkotori dengan praktek yang lazim di tujuan wisata dunia seperti prostitusi, penipuan dan kejahatan lainnya. Justeru Danau Toba bisa menampilkan keunikan wisatanya yakni tetap bersih dari praktek-praktek buruk yang lazim yang di dunia wisata itu. Tentu peran para pemimpin agama sangat besar di sana.