Jurnalistik di Indonesia telah mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak perkembangan yang terjadi disertai pasang surutnya. Namun jurnalistik tetap berkembang hingga menjadi seperti sekarang ini.Â
Histori Jurnalistik Indonesia
Secara historis, jurnalistik Indonesia terbagi menjadi tiga kelompok:
- Jurnalisme Kolonial, yaitu jurnalisme yang dibangun oleh Belanda pada abad ke-18 yang ditandai dengan munculnya surat kabar berbahasa Belanda bernama "Bataviasche Nouvellesd".
- Jurnalisme Tionghoa, yaitu jurnalisme yang dibuat oleh orang Tionghoa di Indonesia dengan menerbitkan surat kabar sebagai media penghubung dan pemersatu Tionghoa Indonesia.
- Jurnalisme Nasional, yaitu jurnalisme yang dibuat oleh anak-anak asli Indonesia sebagai media perjuangan dan alat pergerakan kemerdekaan di abad ke-20. Kemunculannya ditandai dengan ikatan jurnalis bernama Medan Priayi yang dipimpin oleh Tirto Hadisuryo atau lebih dikenal dengan Raden Djikomono.
Sejarah jurnalistik di Indonesia dimulai ketika Belanda menjajah Indonesia. Jurnalisme pada masa pendudukan Belanda ditandai dengan diterbitkannya surat kabar "Memories der Nouvelles" pada tahun 1615 oleh Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen.
Surat kabar ini pada awalnya masih ditulis tangan hingga tahun 1688, di mana pemerintah Hindia Belanda akhirnya memiliki mesin cetak yang dikirim dari Belanda.Â
Mereka segera membuat koran cetakan pertama. Isi surat kabar cetakan pertama tersebut adalah ketentuan dan kesepakatan yang dibuat antara Belanda dan Sultan Makassar saat itu.
Setelah surat kabar pertama muncul, surat kabar lain mulai muncul perlahan-lahan dan diterbitkan oleh masyarakat pribumi dan etnis Tionghoa.
Jurnalisme Masa ReformasiÂ
Hingga saat ini, dunia jurnalistik terus mengepakkan sayap dan berkembang. Hingga akhirnya muncul jurnalisme digital, di mana setiap berita yang disebarkan dapat dilihat melalui platform apapun, tidak terbatas hanya dari media cetak saja.Â