Dalam tulis menulis ini, di momen siang berdialog ringan, Â kami pernah bersama Amarzan di mana Bondan ikut nimbrung. Saya simak kepala Bondan berjidat lebar, tampak memgangguk-angguk. Ia bahkan merenung.Â
"Profesi wartawan itu semacam kutukan."
"Reporter profesi seumur hidup."
"Biar pun ke mana-mana, pasti balik menulis."
Begitu Amarzan berpetuah.
Bondan, "Benar-Benar!"
Agaknya karena kalimat Amarzan itulah, kiranya Bondan mencoba menjalani reporter itu profesi seumur hidup. Maka ketika ada kasus penggorengan  saham perusahaan Tambang Emas di bukit dan lembah  Busang di Kalimantan, maka Bondan mengerahkan seluruh kemampuan jurnalistiknya, 1996-1997.
Tak tanggung-tanggung.  Ia membiayai liputannya dengan uang pribadinya. Bondan bersabar hati memverifikasi satu item data ke beragam sumber, termasuk verifikasinya mampu membuktikan bahwa rahang gigi Micheal de Gusmao, yang telah dimakamkan tak cocok dengan Gusmao asli, geolog asal Filipina, tokoh sentral, terindikasi pelaku penyemprot  serbuk emas ke bilah bor tambang. Laku culas itu memberikan gambaran besar akan kadar volume tambang emas Busang.
Saham Emas Busang di bawah bendera perusahaan Bre X Mineral melonjak berpuluh kali lipat di bursa Kanada di antaranya.
Gusmao diberitakan bunuh diri. Ia diberitakan lompat  dari ketinggian chopper mengudara.Â
Bondan gigih mencari istrinya, putri Bogor. Sang istri  masih menerima kiriman uang Gusmao, walau dinyatakan mati. Bondan ke Manila. Ia bertemu keluarga Gusmao. Bondan yakin bahwa geolog jatuh dari helikopter itu bukanlah Gusmao.