Momen lebaran sudah berlalu, tapi sensasi kegembiraan masih terasa. Apalagi bagi bocah yang meraup keuntungan istimewa. Selain bisa bertemu sepupu dan keluarga besar, mereka biasanya panen rezeki dalam bentuk angpau lebaran. Tak jarang mereka bertukar informasi seputar angka yang didapat dengan teman atau sepupunya.
Namun, soal yang tak kalah penting setelah lebaran adalah bagaimana memanfaatkan uang angpau tersebut. Kalau tak direncanakan, bisa-bisa angpau yang sering kali berjumlah besar itu bakal habis tak bersisa untuk hal-hal tak berguna.
Si bungsu kebetulan menerima angpau yang lumayan. Tidak banyak sih, nyaris menyentuh angka setengah juta. Jarang punya uang banyak, saya dan istri pun mengusulkan agar sebagian disimpan dan sebagian dibelanjakan.
Pilih bacaan ketimbang mainan
Semula anggaran pembelanjaan akan dialokasikan untuk beli mobil-mobilan karena dia hobi menggambar dan otak-atik kendaraan. Namun melihat mainan terakhir yang dipesan secara online ternyata rusak di jalan, maka kami minta dia memikirkan ulang.
Di luar dugaan, ia kemudian minta dibeliin buku, di antaranya dua judul karya Enid Blyton yang tergabung dalam serial Lima Sekawan. Saya bebaskan dia pilih judul yang ia sukai di sebuah lokapasar (marketplace).
Begitu judul sudah didapat, item di keranjang lalu saya tuntaskan pembayaran.
Manfaat beli buku dari angpau
Ketika buku datang, dia senang bukan kepalang. Saya dan istri jadi menyadari bahwa beli buku dari uang angpau begini memang cara yang seru bagi anak, bahkan sangat bermanfaat.
1. Hiburan menyenangkan
Buku yang ia pesan rupanya bukan cuma buat pamer ke teman di sekolah, apalagi dipajang di rak ruang tamu. Ke mana pun dia bawa, termasuk ke stasiun kereta, karena dia sudah tersedot dalam cerita.
Kami gembira sebab dia bisa mendapatkan hiburan tanpa harus memandang layar gawai yang mengkhawatirkan. Bukan tak boleh main di gawai, tapi baca buku seperti ini jadi jeda yang produktif buat dia.
2. Skala prioritas
Dengan membeli buku, secara tak langsung anak sedang belajar menyusun skala prioritas. Ia perlahan tahu mana yang harus didahului, mainan atau buku bacaan? Dengan keputusan membeli buku, ia paham alasan untuk menunda beli mobil-mobilan dengan alasan yang ia sadari.
3. Pentingnya kebutuhan otak
Beli buku dan membacanya jelas bikin dia semringah. Bawa buku ke mana-mana adalah bukti bahwa dia menikmati proses membaca sekaligus mensyukuri ketua telah membelinya.
Dia pun lama-lama mengerti bahwa otak juga butuh asupan gizi berupa bacaan bermutu. Dalam hal ini, ia menemukan kenikmatan dan kepuasan dari petualangan Julian dan kawan-kawan.
Harapan kami, baca buku akan jadi kebiasaan positif yang mengajarkan si bungsu tentang pentingnya menyeimbangkan kebutuhan otak dan fisik seperti makan atau beli mainan.
4. Tambah kosakata
Selama membaca buku yang ia beli, si bungsu kerapa mengajukan pertanyaan seputar kata-katanya baru yang belum ia pahami. Maklumlah, tinggal di daerah dengan mayoritas masyarakat berbahasa Jawa membuatnya belum akrab dengan sejumlah kataÂ
Dia misalnya bertanya tentang arti sekonyong-konyong, sayup-sayup, sekrup, dan lain-lain. Bertambahnya kosakata ini bukan hanya bagus untuk menunjang bacaan berikutnya, tetapi juga membantunya menulis pengalaman di buku diary dengan lebih luwes dan variatif.
Keputusan tepatÂ
Dengan demikian, kami tak ragu menyatakan dengan tegas bahwa beli buku adalah cara yang seru dalam memanfaatkan uang angpau yang diterima anak. Buku baru atau buku bekas sama-sama berguna.
Selain buku baru, si bungsu juga menikmati baca buku seri tokoh dunia, salah satunya George Stephenson yang merupak insinyur rel kereta api sebagai moda transportasi yang ia favoritkan.
Sebagaimana kasus si bungsu, ia jadi punya jeda dari bermain gim di gawai sekaligus punya pasokan kata-kata baru lewat diskusi dengan kami, baik berupa kosakatanya sulit maupun kronologi cerita yang mungkin sesekali sulit ia tangkap.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI